Dari Keluarga, Kuncup Bisnis Lily Kasoem Mengembang

Article Source: http://swa.co.id/entrepreneur/dari-keluarga-kuncup-bisnis-liliy-kasoem-mengembang

 by Tika Widyaningtyas

Siapa tak kenal Lily Kasoem. Melalui bisnis kacamata, namanya melambung. Kuncup bisnis Lily berkembang dari kedua orang tuanya sebagai role model. Atjoem Kasoem, ayahnya, adalah pendiri optik pertama diIndonesia. Atjoem berasal dari keluarga petani miskin, tapi akhirnya memelopori orangIndonesiapertama yang memiliki pabrik kacamata.

Tigor M Siahaan dan Lily Kasoem

“Beruntung ayah kenal ibu saya. Ibu dari Solo yang dikenal punya jiwa dagang kuat,” kenang Lily dalam peresmian Citi Indonesia Women Council.

Diceritakan Lily, awalnya Atjoem  bekerja di sebuah optik milik Belanda. Dari situ ia banyak belajar tentang dunia optik. Sebagai seorang perempuan dengan jiwa bisnis kuat, istri Atjoem ingin membuka usaha optik sendiri.

“Kenapa tidak belajar secepatnya, terus kita buka optik sendiri?” kata Lily menirukan kata-kata ibunya kepada Atjoem. Jadilah kemudian Atjoem membuka optik pertama yang dimiliki orangIndonesia, Optik Kasoem yang bertempat diBandung.

“Ayah saya dulu jualan kacamata dariBandungke Cianjur naik sepeda. Dari kegigihan ayah saya tersebut kemudian jiwa dagang saya muncul,” tutur Lily pada Rabu, 18 Juli 2012.

Kesuksesan Optik Kasoem ternyata tak selalu memuluskan jalan Lily untuk memulai bisnis. Sebagai perempuan, Lily banyak menemui hambatan dalam memulai bisnis terutama memperoleh kredit untuk modal usaha.

Saat itu belum ada kartu kredit yang begitu mudah digunakan di mana pun seperti sekarang. Untuk memperoleh modal, Lily mengajak pejabat bank pria untuk makan. ”Waktu itu saya masih muda dan cantik,” guraunya.

Meski dalam hati merasa risih dan tak nyaman seorang perempuan mentraktir pria, Lily mencoba bertahan. ”Kalau kreditnya sudah dikabulkan ya sudah, nggak jalan bareng lagi.”

Menurut Lily, perempuan profesional sekarang beruntung. Tak hanya kemudahan dalam proses kredit perbankan, masyarakat pun mulai memahami kesetaraan jender. Meski demikian, Lily menyarankan untuk tidak mengandalkan isu kesetaraan jender dalam berbisnis. (EVA)