Sukses Yopie dkk. Berbisnis Mesin Antrean

Article Source: http://swa.co.id/corporate/sukses-yopie-dkk-berbisnis-mesin-antrean

 by Eddy Dwinanto Iskandar

Untuk menggapai sukses, salah satunya dibutuhkan kemauan bergaul dengan masalah selama mungkin. Itulah yang dilakukan Yopie Hutahean dan kawan-kawan melalui PT Rekavisitama yang berbisnis mesin antrean, papan kurs, papan nama perusahaan digital, dan berbagai produk turunannya. Setelah menaburkan puluhan juta rupiah dana pribadi, bisnis yang digeluti para lulusan Jurusan Elektro Universitas Brawijaya, Malang, sejak 2003 itu baru menuai hasil tiga tahun kemudian.

Melihat perjalanan bisnisnya, sejatinya Yopie bukanlah pendiri Rekavisitama.Parapendirinya adalah teman-teman adik kandung Yopie, yaitu Tomi Yahya, Jimmy Handoyo, Fransiscus Lado serta Windiarso. Investor pertamanya adalah Jimmy Handoyo dengan modal Rp 20 juta. Sayangnya, dua tahun berjalan, bisnisnya mandek. Kliennya tidak bertambah. Rekavisitama hanya memproduksi mesin antrean untuk salah satu perusahaan diYogyakartaserta membuat laboratorium bahasa di salah satu lembaga di Surabaya. Sampai-sampai modal Jimmy ikut ludes.

Yopie Hutapea, berbisnis mesin antrean melalui PT Rekavisitama

Saat itulah, Yopie yang merasa kariernya sudah mentok sebagai supervisor senior di salah satu perusahaan memilih bergabung. Namun, hasilnya tak sesuai bayangan. Duit pribadinya senilai Rp 50 juta justru amblas. Setelah dianalisis, penyebabnya adalah mereka lalai merencanakan strategi pemasaran. “Kami tidak pernah berpikir mencari pasar. Kami yakin bahwa pasar pasti ada,” tutur pria kelahiranMedan1974 itu.

Akhirnya, di pengujung 2005, mereka terpikir menggunakan media web untuk memasarkan produknya. Betul saja, tak lama kemudian, ada yang menelepon. Namun sayang, hanya sejauh itu aksi dari si calon pelanggan. Tiada kabar yang terdengar kemudian.

Hingga pada pertengahan 2006, mereka tiba-tiba mendapatkan proyek dari sebuah kontraktor untuk salah satu bank di Aceh. Saat itulah, Yopie berangkat ke Serambi Mekkah memanfaatkan momentum tersebut sebaik mungkin. “Beberapa pihak yang pernah menghubungi, saya kontak langsung dari Aceh. Bukan menggunakan handphone, tetapi dari warung telekomunikasi, untuk create persepsi bahwa kami benar-benar sedang mengerjakan proyek di Aceh.” Singkatnya, Yopie memanfaatkan kode area Aceh.

Benar saja, setelah itu, order mulai berdatangan. “Akhirnya, kami running. Perlahan-lahan kami bisa menutupi biaya operasional,” ujarnya. Hingga kini, Rekavisitama terus menuai sukses. Klien kakap pun berhasil dijaring, seperti Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara, Taspen, Bank Mandiri, Bank BRI, Bank BNI, Bank BTPN, Kantor Pajak, Bank BCA, PDAM, PLN dan PT Bussan Auto Finance, juga rumah sakit, klinik, puskesmas, dan masih banyak lagi. Bahkan, nama Rekavisitama sampai di tanah para nabi. “Kami juga mendapatkan order dari Arab. Mas Jimmy yang datang kesana karena kemampuan bahasa Inggrisnya lebih baik ketimbang yang lain,” ujar Yopie yang enggan memaparkan omset bisnisnya itu.

Selain mesin antrean, produk mereka pun bertambah menjadi papan kurs, papan nama perusahaan digital, dan KiosK. “Saat ini kami sedang mengembangkan ke arah software. Pada mesin antrean, misalnya, user meminta berbagai jenis suara. Karena mesin tidak bisa memenuhi, kami create software yang sesuai,” ungkapnya. Mesin nomor antrean Rekavisitama rata-rata dihargai Rp 20-50 juta per unit. Sementara, produk dan desain laboratorium bahasa digital dihargai Rp 80-90 juta.

Yopie menegaskan, Rekavisitama tidak bermain di bidang trading. “Kami melakukan riset dan pengembangan produk-produk elektronik. Kami rakit. Terus kami jual. Makanya, kami memahami bagaimana proses itu berjalan,” katanya. Banyak manfaat yang diperoleh dari skema demikian. Di antaranya, mereka bisa memilah kualitas komponen yang dibutuhkan dengan baik dan memberikan garansi.

Kini, Yopie dkk. ingin mengembangkan layanan pascajual Rekavisitama. “Kami akan jadikan sebagai ladang pendapatan baru buat kami,” ujarnya. Selain itu, mereka pun berniat mengubah pola penjualan yang selama ini 80%-nya masih melalui kontraktor dan sisanya baru ke pengguna akhir. “Ke depan, kami akan coba putus satu mata rantai. Kami akan coba menjalin hubungan langsung dengan user,” tututr Yopie yang kini mempekerjakan 50 karyawan.

Tantangan lain yang masih menghadang Rekavisitama adalah aspek manajemen. “Sejak 2010, kami melakukan perubahan manajemen dengan titik akhir menuju pada standardisasi proses produksi (ISO). Kami, karena dikendalikan oleh tim yang terdiri darilimaorang, terkadang menghadapi masalah pada perbedaan pendapat. Terutama, pada skala prioritas. Lebih-lebih kami semua sudah memiliki pasangan sendiri-sendiri,” Yopie berterus terang. “Dengan membenahi manajemen, hal-hal yang tidak kami inginkan bisa kami minimalisasi.”

Suhariyanto/Eddy Dwinanto Iskandar