V-Sport, Bisnis Karpet Futsal Mantan Pebasket Nasional

Article Source: http://swa.co.id/entrepreneur/v-sport-bisnis-karpet-futsal-mantan-pebasket-nasional

by Yuyun Manopol

 

Vivin C. Sungkono

Mencari penghasilan sebagai atlet profesional ada batas umurnya. Mungkin karena itulah, makin banyak atlet atau mantan atlet yang memutuskan jadi pebisnis. Salah satunya adalah Vivin C. Sungkono, pebasket putri nasional pada 1990-an.

Melalui merek V-Sport, ia berhasil mengembangkan usaha di bidang interlock tiles flooring alias karpet lapangan futsal berbahan plastik. Dalam situsnya (www.vsport.co.id), V-Sport diklaim sebagai pionir di bidang penyediaan dan pemasangan karpet futsal interlock di Indonesia. Perusahaan yang menaunginya, Viva Dian Kencana, memang sudah memiliki sertifikat dari Badan Futsal Nasional (BFN). V-Sport telah memasang karpet futsal ini di lebih dari 300 lapangan futsal dalam empat tahun diIndonesia dan jugaMalaysia.

Vivin mengaku tak ingat persis kapan mengawali bisnis ini. Perkiraannya pada 2006-07. Semuanya memang berawal dari ketidaksengajaan. Suatu saat, seorang kliennya menanyakan produk rumput sintetis untuk lapangan futsal. Kala itu ia sedang menjalankan usaha sebagai kontraktor dan distributor besi plus bahan material lainnya di Surabaya. Meskipun sebenarnya tak begitu mengenal dunia futsal, termasuk pembuatan lapangannya, Vivin menjawab bahwa ia memiliki produk tersebut. “Ya, namanya juga pedagang. Bilang ada dulu, nanti baru dicari. Pokoknya, harus ada,” ujar Vivin disertai gelak tawa.

Dari sini, ia mulai mencari dan meriset produk rumput sintetis tersebut. Hingga akhirnya ia menemukan dan menyadari bahwa bisnis lapangan futsal sedang meledak di beberapa kotadi Indonesia, termasuk Surabaya. Ia sempat berdiskusi dengan JustinLhaksana, tokoh olahraga futsal Indonesia. Menurut Justin, penggunaan rumput sintetis bukan merupakan standar olahraga futsal dunia. Justin meyakinkan Vivin, kedepan, lapangan yang menggunakan bahan baku interlockyang akan berkembang.Kebetulan saat itu hanya satu pemain yang menjalankan bisnis tersebut, dengan mengimpor barang dari Amerika Serikat dan menyewakannya ke pemilik lapangan futsal.

Vivin pun makin bersemangat untuk mencari tahu mengenai produk ini. Ia melakukan riset hingga ke Cina dan AS untuk mengetahui lebih dalam mengenai produk karpet interlock ini. Ternyata, interlock bisa dibuat diIndonesia.

Awalnya, Vivin mengalihdayakan pembuatan karpet interlock kepada koleganya yang berbisnis di industri plastik. Iamemberanikan diri memberikan cetakan desain interlock yang dipesannya dari Cina ke mitranya tersebut. “Ternyata setelah saya hitung-hitung, masih menguntungkan buat saya,” ujarnya.

Mulanya Vivin belum berani melakukan investasi besar. Baru dua tahun belakangan ini ia mulai berani berinvestasi cukup besar, dengan membeli mesin-mesin produksi sendiri. Nilainya sekitar Rp 1 miliar. Dana sebesar itu belum termasuk untuk membeli lahan bagi pabriknya yang saat ini hanya ada di Surabaya.Dana tersebut didapatnya dari tabungannya sendiri, bukan dana dari hasil bisnis konstruksinya.

Diakuinya, saat itu sangat sulit menjual produk interlockdi Surabaya. Pasalnya, pemilik lapangan lebih mengenal penggunaan rumput sintetis. Adapun interlock berbahan dasar plastik. Melihat situasi ini, ia memutuskan menjual produk interlock di Jakarta. Ia berkeyakinan, apabilaJakarta sudah melakukan sesuatu, daerah lain akan lebih percaya dan cenderung mengikuti.Akhirnya,ia memindahkan bisnis karpet futsal ini dari Surabaya keJakarta.

Vivin juga berusaha melobi organisasi olahraga terkaitdan mengampanyekan penggunaan produk interlock untuk lapangan futsal. Benar saja, dengan bergabung di BFN, ia banyak memperoleh bantuan dalam mewujudkan gagasannya tersebut. Bahkan,BFN mengizinkannya menyediakan interlock untuk penyelenggaraan ajang Liga Pro Futsal, yang saat itu baru dimulai.

Dari situ, produk interlock semakin dikenal secara luas. Bahkan, kampanye Vivin dan BFN mengenai olahraga futsal yang benar pun semakin menjadi kenyataan. BFN juga membantu Vivin, terutama dalam hal mengampanyekan penggunaan bahan interlocksebagai standar internasional lapangan futsal. Vivin pun memakai beberapa pemain futsal nasional yang memang sudah ia kenal sebelumnya untuk membantu mempromosikan produknya.

Jerih payah Vivin berbuah manis. Saat ini, produk interlock dari V-Sport sudah menyebar ke beberapa daerah. Kebanyakan memang di Pulau Jawa. Namun, beberapa daerah di pulau-pulau lain pun saat ini sudah dirambahnya, seperti Kalimantan, Sumatera, Bali dan Sulawesi. Hasilnya, penjualanV-Sport terus meningkat beberapa tahun belakangan ini. Bahkan, Vivin mengklaim, pada 2011-12, pertumbuhan bisnisV-Sport mencapai 100%. Menurutnya, penjualan produk interlock sangat bergantung pada penyelenggaraan ajang futsal nasional sepertiLigaProFutsal atau SEA Games, juga momen tertentu seperti Lebaran.

Red Soccer di Tambun Bekasi telah menjadi pengguna produk V-Sport sejak 2009 atau sejak awal menekuni bisnis futsal. Menurut Mecry, pengelola lapangan futsal Red Soccer, pihaknya memilih V-Sport karena harga dan kualitas yang ditawarkan kompetitif. Tak mengherankan, ia berencana membangun lapangan dengan bahan interlock dari Vivin lagi. (*)

Yuyun Manopol & Radito Wicaksono