Marcellus Chandra, Terinspirasi Begawan Properti

Article Source: http://swa.co.id/headline/marcellus-chandra-terinspirasi-begawan-properti

by Herning Banirestu

Iye 1

Kesuksesan Ciputra mengembangkan imperium bisnis propertinya telah menginspirasi banyak anak muda di Indonesia. Salah satunya, Marcellus Chandra. Namun, berbeda dari kebanyakan pengagum Ciputra, putra salah satu pengusaha properti di Surabaya itu sekaligus berupaya merealisasikan ambisinya.

Rekam jejak Marcellus yang cemerlang pun terlihat. Meski perusahaan propertinya, PT Prioritas Land Indonesia, baru seumur jagung, Marcellus sudah merilis dua proyek properti papan atas dan laku keras. Proyek pertama pemuda kelahiran tahun 1979 itu adalah Majestic Point Villas Bali yang dibangun pada 2011. Sebanyak 50 vila mewah di kawasan Teluk Benoa, Bali itu meski dijual seharga Rp 2-3 miliar per unit, laris dalam satu hari pameran saja. Dia mampu menjual hingga 70% dari total unit yang ditawarkan. Saat ini, seluruh unit vila itu sudah laku terjual.

Prestasi kembali diukir di proyek properti keduanya yang diluncurkan pada pertengahan 2012: Apartemen Majestic Point Serpong, Serpong, Banten. Ia membangun dua menara apartemen di proyek tersebut yang masing-masing bernama Tower Lucia dan Tower Khan dengan jumlah total sebanyak 839 unit. Harga yang dipancang Rp 280-650 juta per unit untuk tipe studio (27 m2), satu kamar tidur (40 m2), dan dua kamar tidur (54 m2).

Tower Lucia sebanyak 339 unit yang ditawarkan ke publik pada Agustus 2012 lebih dulu mencecap sukses dengan penjualan mencapai 95% dalam dua hari pameran. Tower kedua yang berjumlah 500 unit ternyata berhoki serupa. Dalam dua hari pameran di Hotel Mulia, Tower Khan sukses terjual 100%. Marcellus menargetkan pembangunanTowerLuciadanTower Khan masing-masing akan rampung pada pertengahan dan akhir 2015.

Apa rahasia sukses bisnis properti anak muda yang masa remajanya dihabiskan di Benua Kanguru itu? Kuncinya: gabungan antara riset mendalam dan konsep pemasaran yang atraktif. Ketika menggarap proyek Majestic Point, contohnya, tim Marcellus melihat kondisi sekitar lokasi apartemen yang bertaburan kampus besar seperti kampus Universitas Tarumanagara yang baru, Universitas Multimedia Nusantara dan Universitas Pelita Harapan. Lokasi proyeknya juga dinilai berada di kawasan segi tiga emas Karawaci, Serpong, Bumi Serpong Damai. Dengan kondisi tersebut tim Marcellus lantas mendesain apartemennya dengan sasaran tembak keluarga muda dan mahasiswa. Itulah sebabnya harga jualnya dibanderol di bawah Rp 1 miliar.

Selanjutnya, konsep promosi pun digarap serius dengan menawarkan bonus mobil bagi pembeli yang membeli di pameran. Tak cuma itu, sadar banyak calon konsumen yang mampu membayar cicilan tetapi terkendala pada down payment, Marcellus menetapkan konsep cicilan uang muka hingga 24 kali bayar atau selama dua tahun.

Desain bangunan pun digarap dengan konsep futuristis yang hemat energi. Unit apartemennya dilengkapi kaca lebar yang banyak meloloskan sinar matahari ke dalam ruangan. Bagian luarnya dilengkapi dengan pelat baja untuk kemudahan perawatan unit apartemen.

Apartemen yang dilengkapi dengan kolam renang dan pusat kebugaran itu pun memiliki sky park atau taman terbuka di lantai 9 lengkap dengan perpustakaan serta pusat les di lantai dasarnya. Menurut Marcellus, konsep tersebut sangat sesuai dengan segmen pasarnya yang membutuhkan lingkungan belajar yang kondusif baik bagi mahasiswa maupun anak-anak keluarga muda. Dengan konsep yang atraktif tersebut tak heran propertinya laris manis.“Target saya 100% terjual, dalam dua hari dijual, dan itu berhasil terwujud akhir tahun lalu di Hotel Mulia,” katanya bangga.

Keahlian Marcellus dalam pemasaran sendiri sudah ditempa jauh hari sebelumnya selepas menuntut ilmu di Jurusan Enjiniring Sipil dan Sains Komputer di University of New South Wales, Sydney, Australia. Seusai kuliah, ia bekerja di salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Australia, Hansen Yuncken Pty. Ltd., dan menangani proyek rekonstruksi gudang senilai AU$ 20 juta. Selanjutnya, pada 2003 ia bersama temannya membentuk perusahaan pengembang software dan menciptakan sistem informasi terintegrasi untuk perusahaan obat generik terbesar di Australia, Alphapharm Pty. Ltd.

Setelah dua tahun membangun bisnis sendiri di Australia, Marcellus memutuskan pulang kampung. “Saya harus membangun negeri sendiri, orang tua saya juga tinggal di Indonesia, usaha itu saya serahkan ke teman,” katanya. Ia lalu memulai karier dari nol di Jakarta.

Pada 2005 ia turut membangun dan mengelola jaringan distribusi penjualan untuk perusahaan publik NuSkin dan Pharmanex dengan omset mencapai US$ 1,3 miliar. Di perusahaan tersebut, jaringan distributor yang terbentuk total mencapai sekitar 1.500 orang yang tersebar di Australia, Singapura, Amerika Serikat dan Indonesia. Marcellus sendiri saat itu bertanggung jawab atas pengembangan dan pelatihan tim distributor.

Selanjutnya, pada 2009 ia kembali pindah kapal dan memimpin pengembangan bisnis dan pemasaran T.G. Hay, perusahaan rancang bangun rumah mewah. Barulah setelah puas menimba ilmu, Marcellus akhirnya mendirikan PT Prioritas Land Indonesia bersama beberapa mitra. Meski enggan memaparkan secara gamblang, Marcellus yang menjabat sebagai presdir menyebutkan, pemegang saham utama di perusahaan tersebut merupakan perusahaan pengembang yang sedang tumbuh.

Apa target Marcellus selanjutnya? Ia ternyata akan kembali melirik Bali. Di sana, ia hendak menggarap proyek vila mewah selanjutnya, Majestic Water Village Uluwatu. Ia pun sempat memaparkan obsesinya, “Saya ingin menjadi entrepreneur yang bagus seperti Ciputra,” ujarnya bersungguh-sungguh.

Herning Banirestu & Eddy Dwinanto Iskandar