Bertolomeus Saksono Jati, Think Out Box by Do Action.

Article Source: http://www.pengusahaindonesia.co.id/bertolomeus-saksono-jati-think-out-box-by-do-action/

Bisnis yang sukses adalah bisnis yang tidak banyak tanya tapi langsung action,” ucap Berto mengulang komentar dari sosok idolanya, Bob Sadino yang kemudian ia jadikan prinsip bisnisnya. Dari kalimat itulah Berto tertantang menjadi pengusaha muda yang kreatif yang memiliki pola pikir out of the box.

Iye 12

Do action tanpa terlalu banyak pertimbangan, mungkin itulah prinsip yang dipegang teguh hingga kini oleh Bertolomeus Saksono Jati. Dalam membangun bisnisnya Berto begitu ia disapa tak pernah sedikitpun ragu dalam mengambil keputusan. Karenanya ide kreatif yang kerap meletup-letup tanpa terbendung langsung saja dieksekusi tanpa pikir terlalu lama. “Kalau saya kebanyakan mikir mungkin Bloop Endorse Urbie belum tentu seperti sekarang. Prinsip bisnis seperti ini saya dapat dari tokoh pengusaha yang menginspirasi saya yaitu Bob Sadino. Saya sangat mengagumi beliau  karena kecanggihan insting bisnisnya. Banyak prisnsip beliau yang saya tiru salah satunya ya do action. Bedanya saya masih muda beliau sudah senior,” ujar pemilik distro berlabel Bloop Endorse Urbie. Prinsip itulah yang membawa Berto terlatih untuk berpikir di luar kelaziman dalam rangka mengembangkan bisnis distronya.

Iye 13

Sebagai pengusaha distro, Berto menyadari betul bahwa bisnis ini sarat persaingan ketat. Oleh karena itu setiap ide yang muncul sekalipun terkesan nyeleneh tidak boleh dianggap sepele. Justru ide-ide yang terkesan aneh itulah yang membuat Bloop Endorse Urbie sebagai distro dengan strategi promo yang unik. Untuk produk boleh dibilang mungkin hampir sama dengan kebanyakan distro lainnya. Mengusung tren fashion anak muda dari usia remaja hingga para eksekutif muda. Namun urusan promo jangan ditanya bagaimana bentuk kegilaannya. Saban minggu ada saja bentuk promo unik yang digelar. “Contohnya untuk minggu ini siapa yang pakai baju putih-putih datang ke outlet kita pasti langsung dapat diskon belanja. Minggu selanjutnya pasti beda lagi,” ujar Berto bersemangat.

Belum lagi dengan ide nyeleneh lainnya yang pernah membuat heboh seluruh pengunjung yang tengah asyik berbelanja. Tanpa pemberitahuan tiba-tiba Berto memerintahkan stafnya untuk menutup outlet dan mematikan lampu. Sontak pengunjung yang terkunci di dalam outlet histeris berteriak ketakutan dan pengunjung yang hendak masuk hanya menyaksikan kehebohan dari luar. “Waktu itu saya mau bikin surprise buat pelanggan caranya dengan kasih sesuatu yang bikin mereka kaget. Dan yang ‘terjebak’ saat kondisi lampu padam justru merasa beruntung karena dapat voucer belanja yang nilainya bervariasi. Malah yang di luar outlet sampai merasa menyesal engga buru-buru masuk,” kata Berto sambil tertawa.

Bentuk promo nyeleneh demikian ia sebut dengan nama ‘wow factor’. Masih banyak lagi macam-macam program wow factor yang rutin digelar di outlet milik Berto. Bahkan Berto sengaja menularkan pola pikir out the box ala dirinya kepada seluruh staf agar mereka mampu menciptakan ide untuk program ‘wow factor’ tersebut. “Seluruh staf mulai dari jajaran bawah sampai atas selalu dibuka kesempatan menyumbang ide. Satpam sekalipun kalau punya ide menarik pasti akan dicoba untuk direalisasikan,” terang Berto.

Cara Berto mengembangkan usaha melalui strategi yang tidak lazim dilakukan pengausaha distro lainnya rupanya sudah ia latih sejak masih duduk di bangku SMA. Berto bersama dua saudaranya pernah membuat bisnis kecil-kecilan dengan promo yang nyentrik dan membuat orang terperangah. “Saya pernah membuat usaha martabak kaki lima. Untuk promosinya siapa yang beli martabak secara rutin ada hadiah berupa TV. Aneh kan beli martabak kok dapat TV,” imbuhnya sambil tersenyum bangga.

Namun lantaran ia belum banyak pengalaman soal berbisnis alhasil usahanya tersebut kandas di tengah jalan. Bukan seorang Berto jika ia putus asa, tak selang berapa lama ia sudah memiliki ide cemerlang untuk membuat usaha distro. Di sinilah cikal bakal Bloop Endorse Urbie tercipta. “Nah kenapa saya bisa membuka usaha bidang fashion karena saat itu tren fashion anak muda sedang mengarah pada baju-baju  distro merek luar. Insting bisnis saya mulai menangkap peluang kenapa tidak bikin versi lokalnya siapa tahu laku,” jelas Berto.

Ternyata instingnya cukup tajam menganalisa peluang di depan mata. Setelah Bloop berdiri Berto tak berhenti melakukan inovasi dan promo unik. Ia mendirikan cabang baru bernama Endorse dengan segmen yang sedikit berbeda. Jika sebelumnya tren fashion Bloop ditujukan untuk remaja maka Endorse menyasar pangsa pasar yang lebih dewasa dengan tren baju sedikit lebih formal. “Saat itu saya terpikirkan untuk buka cabang tapi bukan dengan konsep yang sama. Saya mau setiap kali buka cabang konsep harus berbeda. Makanya saya kasih nama baru untuk outlet Endorse,” papar Berto.

Masih berlanjut Berto tak puas dengan pencapaian tersebut kemudian ia kembali membuka cabang teranyarnya di bilangan Jatiwaringin dengan nama Urbie. Outlet terbarunya ditujukan bagi mereka yang memiliki ekstra percaya diri. Sebab pakaian yang dijual dominan bermotif unik dari biasanya. Memang sudah menjadi ciri khas  Berto selalu membuat nama baru dan konsep baru acapkali membuka cabang demi tampil beda.  Bagi Berto menjadi inovator sudah harga mati, mutlak tidak bisa ditawar-tawar. “Sebab setelah saya teliti banyak distro yang mati alias gulung tikar karena berhenti berinovasi. Pelajaran buat saya bagaimana mengelola bisnis distro di tengah persaingan yang sangat ketat,” seru Berto yang menggandeng artis-artis beken sebagai brand ambassador-nya.

Tak cuma berhenti di bidang fashion, Berto juga merambah ke bidang kuliner dengan membuka kedai seperti Bebek  Ginyo dan Dejons Burger. Cikal bakalnya muncul bidang bisnis itu karena saat itu cukup banyak para orang tua yang menemani anaknya berbelanja di distro. Parkiran dipakai sebagai tempat menunggu, lantas sekalian saja  Berto membuatkan warung kecil tempat para orang tua ini bisa makan saat menunggu. “Lama-lama warung kecil ini jadi besar sekalian saya pindahkan ke lokasi baru jadilah Dejons burger, begitu juga dengan Bebek Ginyo. Kebanyakan ide usaha muncul di saat saya menemukan masalah dari operasional sehari-hari. Sampai strategi berpromosi juga muncul dari sana,” ungkap Berto yang mampu mencetak omzet hingga sembilan digit.