Bisnis tahu jeletot belum melorot

Article Source: http://peluangusaha.kontan.co.id/news/bisnis-tahu-jeletot-belum-melorot

Oleh Izzatul Mazidah, Jane Aprilyani, Merlina M. Barbara, Rani Nossar

Tawaran kemitraan usaha Tahu Jeletot Taisi oleh Rudi Parlinggoman Sinurat pada tahun 2012 di Depok, Jawa Barat.Foto: DOK Tahu Jeletot T

Tawaran kemitraan usaha Tahu Jeletot Taisi oleh Rudi Parlinggoman Sinurat pada tahun 2012 di Depok, Jawa Barat.
Foto: DOK Tahu Jeletot T

Kendati bukan kudapan asli Indonesia, tahu sudah menjadi makanan favorit bagi masyarakat di tanah air. Hampir semua orang menyukai makanan yang terbuat dari endapan perasan kedelai ini.

Makanan asal negeri China ini bisa dimasak dengan berbagai proses penyajian. Misalnya dikukus, rebus, bakar, atau digoreng. Karena mudahnya cara penyajian tahu, kini semakin banyak bermunculan varian penganan dan camilan yang serba berbahan tahu.

Salah satunya adalah tahu goreng yang diisi campuran kol, wortel dan cabai rawit hijau atau merah. Camilan ini lazim disebut tahu pedas. Belakangan ini, semakin banyak pelaku usaha di Indonesia yang menekuni bisnis tahu pedas. Bahkan, di antara mereka, sudah menawarkan kemitraan kepada masyarakat.

Nah, untuk melihat perkembangan terakhir beberapa kemitraan tahu pedas dan strategi para pelaku usaha menjaga eksistensi bisnisnya itu, KONTAN akan mengulas tiga kemitraan tahu pedas yang pernah dimuat sebelumnya.

• Tahu Pedas Hot

Usaha ini dirintis oleh Handi Wijaya di Jakarta pada Januari 2011. Untuk mengembangkan sayap bisnis, Handi menawarkan kemitraan Tahu Pedas Hot pada tahun 2013.

Saat ini, bisnis Tahu Pedas Hot dijalankan oleh Amos Andika Eordy, anak dari Handi Wijaya. Saat diulas KONTAN pada 2013, Tahu pedas hot punya 15 gerai. Sembilan gerai di antaranya punya pusat dan sisanya milik mitra.
Tapi, ketika diulas kembali oleh KONTAN pada September 2014, gerai Tahu Pedas Hot telah berkurang tiga menjadi 12 gerai. Rinciannya, sembilan gerai tetap milik pusat dan tiga gerai punya mitra.

Kini, pada 2015, jumlah gerai Tahu Pedas Hot kembali menyusut menjadi hanya delapan gerai. Rinciannya, gerai pusat tinggal enam yang tersebar di Jakarta dan Tangerang Selatan, Banten. Sedangkan milik mitra tersisa dua gerai di Cengkareng, Jakarta. “Jumlah gerai berkurang karena banyak mitra yang tidak fokus menjalankan usaha, karena ketatnya persaingan bisnis dan sering keluar masuknya pegawai,” imbuh dia.

Kendati jumlah gerai berkurang, Amos meyakinkan, pihaknya akan terus mempertahankan dan mengembangkan bisnis Tahu Pedas Hot. Untuk itu, ia terus melakukan inovasi produk dan konsep usaha.

Saat ini, lanjut Amos, Tahu Pedas Hot telah menjajakan produk baru berupa tahu pedas frozen (beku) yang dijual eceran. Selain itu, Tahu Pedas Hot akan menjual tahu mini dengan harga terjangkau.

Untuk paket kemitraan masih tetap Rp 15 juta. Hanya harga jual tahu naik dari Rp 2.000 menjadi Rp 2.500 per buah, karena mengikuti kenaikan harga bahan baku.

Kendati harga jual produk naik, Amos mengklaim, mitra masih tetap bisa mendulang omzet lumayan dari bisnis ini. Setiap gerai Tahu Pedas Hot, kata dia, bisa meraup omzet Rp 100 juta per bulan dengan laba bersih sekitar 30%.

• Kuch2hotahu

Usaha tahu pedas ini didirikan oleh Herman Susilo pada bulan September 2012 di Kudus, Jawa Tengah. Saat KONTAN mengulas kemitraan bisnis ini pada September 2012, jumlah gerai Kuch2hotahu sudah mencapai 170 unit. Dari jumlah itu, 10 gerai milik pusat dan sisanya punya mitra.

Pada 2014, KONTAN sempat mengulas kembali kemitraan Kuch2hotahu. Pada tahun lalu, Kuch2hotahu sudah memiliki 1.000 mitra yang tersebar di penjuru Indonesia termasuk Manado dan Papua.

Kini, pada 2015, Kuch2hotahu mampu menjaga eksistensi bisnisnya dengan jumlah gerai masih bertahan 1.000 unit. Bahkan, menurut Martha, staf pemasaran Kuch2hotahu, saat ini pihaknya berencana ekspansi ke Malaysia. “Kami masih negosisasi dengan mitra di Penang, Malaysia,” katanya.

Untuk menjaring banyak mitra, Kuch2hotahu tak mengubah harga paket investasi kemitraan. Saat ini, Kuch2hotahu masih tetap menawarkan tiga paket investasi. Pertama senilai Rp 8,5 juta untuk paket booth reguler, kedua, Rp 10 juta paket booth Minikuch, dan ketiga, Rp 12 juta paket Maxikuch.

Namun, harga paket ini hanya berlaku di Pulau Jawa. Untuk di luar Jawa, harga paket booth reguler Rp 9,5 juta, Rp 12 juta untuk paket Minikuch, dan senilai Rp 15 juta untuk paket Maxikuch.

Hanya, harga jual Kuch2hotahu naik dari Rp 3.000-Rp 5.000 jadi Rp 5.000-Rp 8.000 per porsi. Kenaikan harga lantaran Kuch2hotahu menambah varian rasa. Dari tujuh varian menjadi 25 rasa dengan level kepedasan berbeda. Varian terbaru adalah sambal hijau dan sambal dewa.

Martha menambahkan, saat ini pihaknya tengah menyiapkan 30 varian rasa lagi yang siap diluncurkan secara bertahap. “Kami punya menu Nasi Kuchel, semacam nasi goreng ala Kuch2hotahu,” katanya.

Kuch2hotahu juga melakukan inovasi kemasan produk setiap bulan. Kini, desain kemasannya dilengkapi papercraft. “Alhamdulillah, banyak yang suka. Selain lebih murah, kemasannya bisa buat mainan anak-anak,” imbuhnya.

Sejauh ini, sambung Martha, bisnis Kuch2hotahu hanya terkendala aturan jarak yang dibuat pusat. Yakni, jarak antargerai Kuch2hotahu dibatasi minimal 2 kilometer (km). Padahal, banyak mitra berminat membuka gerai dengan lokasi kurang dari 2 km dari gerai lainnya. Di tahun ini, pihat pusat menargetkan gerai Kuch2hotahu bisa 1.500 unit.

• Tahu Jeletot Taisi

Usaha ini didirikan oleh Rudi Parlinggoman Sinurat pada tahun 2012 di Depok, Jawa Barat. Pada 2013, Rudi membuka tawaran kemitraan. Pada September 2014, ketika KONTAN mengulas kemitraan ini, Tahu Jeletot Taisi telah memiliki 60 gerai. Rinciannya, lima gerai punya pusat dan sisanya milik mitra yang tersebar di wilayah Jabodetabek.

Kini, pada 2015, gerai Tahu Jeletot Taisi telah bertambah menjadi 110 unit. Gerai pusat tetap lima unit, sisanya milik mitra. Dus, hanya berselang setahun, Tahu Jeletot Taisi telah menambah 50 mitra.

Menurut Rudi, penambahan gerai yang cukup pesat, salah satunya dipicu perkembangan usaha mitra. “Saya sendiri juga tidak gencar-gencar amat mencari mitra baru. Bersyukur saja jika mitra bertambah banyak,” kata Rudi.
Untuk mengembangkan kemitraan Tahu Jeletot Taisi, Rudi mengubah paket investasi kemitraan. Jika sebelumnya paket investasi hanya tersedia satu macam dengan nilai Rp 10 juta, kini ada dua paket pilihan. Yakni, paket senilai Rp 7,5 juta dan Rp 15 juta.

Pada masing-masing paket investasi, mitra akan mendapatkan fasilitas yang sama. Perbedaannya hanya terletak di ukuran booth. Selain booth, fasilitas yang didapatkan mitra adalah perlengkapan memasak, branding, bahan baku awal, dan perlengkapan tambahan lainnya.

Dalam sebulan, Tahu Jeletot Taisi bisa mengantongi omzet sekitar Rp 18 juta. Setelah dikurangi biaya bahan baku dan operasional, keuntungan bersih yang didapatkan mitra sekitar 20% dari omzet. Sehingga, dalam waktu empat bulan, mitra sudah bisa balik modal.

Kini, Tahu Jeletot Taisi telah menambah varian rasa, yakni isi ayam dan sosis. Sebelumnya, hanya isi wortel dan tauge. Harga jual tahu jeletot juga naik, dari Rp 2.000 jadi Rp 2.500 per biji. “Harga bahan baku kedelai dan cabai meningkat,” imbuh Rudi.

Fluktuasi harga bahan baku memang jadi salah satu kendala bisnis Rudi. Itu sebabnya, Rudi belum tertarik membuka gerai di luar Jawa. Kalau pun ada mitra berminat, ia membuka tawaran paket investasi Rp 150 juta. Mitra juga diwajibkan mengambil tahu dari pusat agar kualitas rasanya sama. Dia menargetkan, hingga akhir 2015, gerai Tahu Jeletot Taisi jadi 150 unit.
Editor: Tri Adi.