Tak hanya bugar, peserta juga harus senang
27 juli 2015
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/tak-hanya-bugar-peserta-juga-harus-senang
Oleh J. Ani Kristanti
Tingkat daya beli masyarakat urban yang tinggi menggairahkan sejumlah bisnis yang berkaitan dengan gaya hidup dan kesehatan. Apalagi, di kota metropolitan semacam Jakarta, banyak warganya yang makin peduli dengan kebugaran tubuh. Tak heran, bisnis seputar olah tubuh ini berkembang baik.
Tengok saja, pusat-pusat kebugaran kian menjamur. Bukan saja pemain besar yang gencar menambah cabang baru, pelaku bisnis individu juga banyak yang menerjuni bisnis ini. Salah satunya adalah Gita Sjahrir yang membuka Ride, studio indoor cycling (sepeda statis) di bilangan Sudirman Central Business District (SCBD), pertengahan April lalu.
Perempuan berpenampilan energik ini melihat peluang membuka kelas indoor cycling karena belum ada pemain yang menawarkan konsep seperti Ride di Jakarta. “Padahal, di kota-kota besar luar negeri, tren indoor cycling seperti Ride cukup berkembang,” cetus Gita.
Gita memang mengadopsi konsep studionya dari pusat kebugaran serupa di luar negeri. Dia yang beberapa tahun tinggal di New York, Amerika Serikat, gemar melakoni aktivitas indoor cycling untuk mengusir stres akibat kesibukan kerja. “Waktu itu, saya addicted banget. Dari yang sekali-kali, jadi tujuh kali seminggu,” ujar perempuan 33 tahun ini.
Berbeda dengan gym yang memiliki indoor cycling sebagai salah satu fasilitas, Ride hanya mengkhususkan diri pada olahraga sepeda statis ini. Bukan cuma itu, Gita mengemas konsep khusus, yakni suasana studio layaknya pub. Jadi, selama kelas berlangsung, akan diiringi musik hip hop plus gemerlap lampu disko. “Jadi, peserta kelas tak akan merasa bahwa dirinya melakukan olah raga berat, biar lebih loss saja,” seru dia.
Tak hanya itu, Gita bilang, ritme kayuhan dan musik yang diputar berbeda tiap hari. “Jadi, play list hari ini nggak bakal sama dengan besok. Tubuh ditantang tiap hari untuk melakukan sesuatu yang berbeda,” kata Gita. Ritme dan irama kayuhan sepeda bisa cepat, lambat, sangat cepat, dan lainnya.
Meski baru dua bulan beroperasi, Gita sudah merasakan respons masyarakat yang cukup baik. Dari orang yang awalnya coba-coba hingga pengunjung yang jadi ketagihan seperti dirinya saat mengenal indoor cycling dengan konsep ini.
Gita pun melihat ada dua tipe pengunjung butik studionya. Pertama, konsumen yang memang sudah pernah melakukan aktivitas ini saat mereka sekolah atau bekerja di luar negeri. Kedua, orang yang memang baru mencoba. “Bisanya tipe yang kedua ini adalah mereka yang lebih teredukasi dan tercerahkan tentang kesehatan atau memang senang ikuti tren baru,” jelas Gita.
Studio Ride sanggup menampung 32 peserta. Total ada 9 kelas per minggu yang diselenggarakan dalam enam hari. Ada beberapa pilihan kelas berdurasi singkat namun tepat sasaran, yakni Ride Signature Class berdurasi 30 menit dan Ride Classic Class dengan durasi 45 menit. Biaya untuk mengikuti kelas ini Rp 220.000 per sesi. Namun, selama soft opening, Gita mematok Rp 175.000 per sesi.
Meski enggan menyebut jumlah kunjungan, sejauh ini, Gita melihat tingkat okupansi Ride cukup bagus. “Sudah mulai ada beberapa kelas yang okupansinya 100%,” ujarnya. Yang jelas, jalannya roda usaha ini masih sesuai dengan rencana bisnis.
Gita menambahkan, industri kebugaran ini cukup berkembang pesat di Indonesia. Dia yang sebelumnya bekerja sebagai konsultan bisnis di New York, melihat peluang masih terbuka lebar di negara berkembang seiring belanja konsumen yang selalu meningkat dan sensitif terhadap harga. “Ini adalah pasar yang bagus. Apalagi, mereka selalu ada ketertarikan terhadap lifestyle,” jelas dia.
Anda tertarik membangun butik studio dengan spesialisasi olahraga tertentu?
Pemilik juga instruktur
Usaha studio kebugaran ini tergolong dalam bisnis jasa. Oleh karena itu, patut Anda ingat, servis atau layanan menjadi poin penting dalam bisnis jasa, selain produk yang Anda tawarkan.
Itulah sebabnya, Gita selalu berusaha membangun komunikasi dengan konsumennya. Untuk bisa memberikan layanan yang maksimal, dia tak segan untuk bertanya apa saja yang menurut konsumen masih kurang atau menjadi keinginan konsumen. “Paling tidak mereka terkesan oleh pemilik yang baik dan ramah,” ujar dia.
Termasuk, dia menanyakan apa yang dirasakan konsumen setelah mengikuti sesi bersepeda di Ride. “Karena dalam bisnis ini, bukan hanya tubuh yang bugar menjadi tujuannya, tapi pengunjung juga harus fun, seperti yang saya rasakan dulu,” terang dia.
Tak heran, bukan cuma modal uang, pengetahuan tentang bidang olah raga yang ingin diterjuni mutlak harus dikuasai oleh calon investor. Sebelum membuka bisnisnya, selama enam bulan, Gita melakukan observasi beberapa indoor cycling dalam dan luar negeri. “Saya mencoba hampir semua kelas bersepeda di Jakarta, Singapura, dan beberapa lainnya di negara lain,” ujar dia.
Satu hal, untuk mengemas kelas yang berkesan, salah satu kuncinya terletak pada instruktur. Gita pun menitikberatkan pada pemilihan instruktur. Bahkan, dia sendiri juga terjun menjadi instruktur di studionya. Menurut dia, penting bagi investor untuk terjun langsung. “Jadi, harus menguasai, saya instruktur sekaligus pengelola dan harus begitu,” tutur Gita.
Khusus untuk indoor cycling seperti konsep Ride, Gita menekankan pelatih yang menguasai sejumlah musik. Sebab, selain menentukan program bersepeda, mereka juga harus membuat play list musik selama sesi bersepeda. Dan harus diingat, konsumen sekarang selektif, mereka tahu, mana yang bagus dan tidak bagus. “Oleh karena itu, investasi terbesar sebenarnya untuk trainer ini,” kata Gita.
Lokasi studio juga menjadi pertimbangan penting roda bisnis bakal berjalan baik. Untuk menentukan lokasi ini, Anda terlebih dulu harus menetapkan pasar yang menjadi bidikan bisnis Anda. Lokasi yang strategis tentu menjadi keharusan, tapi sebaiknya juga mudah untuk dicapai.
Gita memilih lokasi Ride di area SCBD karena dia membidik pasar dari kalangan profesional muda. Di pusat bisnis itu memang banyak profesional muda yang terbiasa dengan gaya hidup kekinian. Lokasi yang persis berada di pusat lifestyle, juga menunjukkan bahwa Ride merupakan bagian dari gaya hidup masyarakat urban.
Karena mengincar kalangan menengah atas, sebaiknya Anda juga memikirkan lahan parkir yang memadai. Jangan biarkan, pengunjung merasa kesal terlebih dahulu karena sulit mencari lahan parkir. Bisa-bisa mood positif untuk mencari tubuh bugar dan senang akan lenyap sebelum berlatih.
Selain instruktur, modal besar bisnis kebugaran ini diperlukan untuk ruang usaha. Apalagi jika lokasinya di pusat kota, biaya sewanya bisa merogoh kantong cukup dalam. Suasana tempat latihan juga harus diolah semenarik mungkin untuk menghindari kebosanan.
Seperti Gita yang mendandani studionya layaknya kelab malam. Tujuannya, supaya peserta bisa lebih rileks, selain memang konsep seperti itu yang ingin dia hadirkan.
Hal lainnya yang cukup penting adalah soal pemasaran. Media sosial memang bisa menjadi pilihan, tapi tak ada salahnya Anda juga mengembangkan promosi lainnya. Selain beriklan, Anda juga bisa mengundang komunitas-komunitas tertentu untuk mencicipi pusat kebugaran ini. “Orang harus tahu ada tempat ini dan sekali mereka datang harus meninggalkan kesan bahwa ini produk berstandar tinggi,” kata Gita.
Tertarik menjajal bisnis seperti ini?
Editor: Tri Adi




