UKM Surabaya bisa digdaya di negeri sendiri

Article Source: http://peluangusaha.kontan.co.id/news/ukm-surabaya-bisa-digdaya-di-negeri-sendiri

Oleh Rani Nossar

Walikota Surabaya Tri Rismaharani (kanan) menghadiri ajang promosi UKM dari Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna Expo 2015 di Surabaya, akhir pekan lalu. Foto Dok Sampoerna

Walikota Surabaya Tri Rismaharani (kanan) menghadiri ajang promosi UKM dari Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna Expo 2015 di Surabaya, akhir pekan lalu. Foto Dok Sampoerna

Menggairahkan sektor UKM di daerah seperti Surabaya membutuhkan aksi nyata pemerintah dan dukungan corporate sosial responsibility (CSR) dari perusahaan. Caranya dengan pembinaan meningkatkan kualitas produk. Aminah, pengusaha daun semanggi di Surabaya yang dibina, kini bisa menjual enam kali lipat produk lebih banyak setelah berjualan di toko online.

Pengusaha skala Unit Kecil dan Menengah (UKM) di Surabaya tidak terlalu terkena dampak penguatan dollar AS. Sebab, Pemerintah Kota Surabaya menekankan para pelaku UKM di daerah ini untuk mendatangkan bahan baku dan menggarap pasar di dalam negeri. Ini cukup berhasil mengurangi dampak pelemahan rupiah di dalam negeri, khususnya bagi para pelaku UKM.

Dalam acara pelatihan kewirausahaan 72 pengusaha UKM yang diselenggarakan PT HM Sampoerna di Surabaya, Tri Rismaharani, Walikota Surabaya, mengatakan, pihaknya banyak bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan untuk melatih dan meningkatkan kualitas produk UKM di Surabaya agar mampu bersaing di tengah pasar global Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Kegiatan yang dilakukan antara lain dengan melatih pembuatan kemasan yang menarik dan layak jual serta tahan lama, pelatihan meningkatkan kualitas produk, mengurus perizinan usaha, merek, hingga kalau usahanya di bidang kulinar didukung hingga ke tingkat BPOM dan Dinas Kesehatan.

“Setelah semua dibina, tentu kita ajarkan untuk promosi salah satunya dengan berjualan secara online. Jadi sudah bisa bersaing dengan negara-negara ASEAN lain,” tukas Risma. Saat ini para pengusaha UKM di Surabaya sudah bisa menyumbang kas daerah lebih dari Rp 100 juta per bulan.

Seperti salah satu pengusaha penjual daun semanggi di Surabaya bernama Aminah. Awalnya dia berjualan daun semanggi secara tradisional, menjajakannya dari rumah ke rumah, dan membuka warung di depan rumah.

Namun, setelah mendapat pelatihan dari Pemkot dan bantuan fasilitas dari perusahaan, saat ini Aminah bisa mengemas semanggi secara modern dengan brand Barokah Jaya. Kini Aminah sudah bisa menjualnya di situs toko online seperti OLX.co.id dan Bukalapak.com.

Dampaknya lumayan. Penjualannya meningkat cukup pesat. Awalnya dia hanya bisa menjual 40 bungkus per hari. Setelah berjualan lewat online, sekarang dia mampu menjual hingga 300 produk per hari. Alhasil, omzetnya pun melonjak hampir mencapai Rp 60 juta per bulan hanya dengan menjual daun semanggi.

Risma bilang, sebagian besar pengusaha UKM di Surabaya adalah mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Sebagian dari mereka tergiur untuk kembali menjadi TKI karena godaan gaji yang besar. Padahal, menjadi wirausaha di negara sendiri juga bisa menghasilkan.

Itu sebabnya, agar makin menggairahkan sektor UKM, Risma memberi penghargaan kepada para pengusaha UKM yang sukses dengan membuat program Pahlawan Ekonomi sejak 2010. Sekarang sudah ada lebih dari 5.000 Pahlawan Ekonomi di Surabaya. Tapi jumlahnya masih sedikit jika dibanding penduduk Surabaya yang mencapai 30 juta jiwa. Editor: Tri Adi.