Bisnis Sepatu: Inovatif di Tengah Persaingan Ketat
Article Source: http://entrepreneur.bisnis.com/read/20160116/263/510284/bisnis-sepatu-inovatif-di-tengah-persaingan-ketat
Ropesta Sitorus

Salah satu contoh karya Yusi Kurniawati yang mengusung merek U/See Shoes (Foto: U/See Shoes)
Bisnis.com, JAKARTA - Bisnis di bidang fesyen masih menarik untuk dijajaki. Ada banyak jenis usaha yang dapat dimasuki pelaku usaha, salah satunya pembuatan sepatu. Pasar untuk alas kaki sangat luas sebab keberadaannya dibutuhkan oleh semua orang, mulai dari bayi hingga lansia.
Potensi pembeliannya pun cukup tinggi sebab, biasanya, satu orang bisa mengoleksi lebih dari sepasang sepatu yang digunakan untuk keperluan yang berbeda-beda.
Hal ini terutama dialami kaum perempuan yang bisa memiliki belasan hingga puluhan pasang sepatu koleksi untuk dipadupadankan dengan pakaiannya.
Besarnya peluang pasar membuat banyak pelaku usaha yang mencoba peruntungan di dalam bisnis ini.
Kendati persaingan dalam bisnis ini cukup ketat, dengan inovasi yang cerdik maka pelaku usaha lokal dapat terus bersaing.
Strategi inovasi dimaksud bisa dilakukan dalam berbagai aspek, mulai dari mencari desain yang unik berbeda dari yang lain, dari segi bahan baku, hingga sepatu fungsionil yang pemainnya belum terlalu banyak.
Yusi Kurniawati adalah salah satu pelaku usaha yang fokus dalam pembuatan sepatu, khususnya sepatu unik dengan merek U-see Shoes.
Ketika memulai bisnisnya enam tahun lalu, Yusi hanya membuat dua pasang sepatu. Namun kini dia mampu memproduksi 500-1.000 pasang sepatu setiap bulan.
Dia menjual sepatunya dengan harga yang bervariatif, mulai dari Rp300.000 ke atas untuk produk dari bahan imitasi seperti kulit, kanvas, dan batik. Sementara untuk produk dari bahan lain seperti genuine leather, crocodile leather dan snake leather dijualnya mulai dari Rp450.000 hingga Rp3,5 juta.
“Omzetnya paling minimal sekitar Rp400 juta - Rp500 juta. Kalau kondisi sedang ramai seperti Imlek, Lebaran dan Natal penjualannya bisa dua kali lipat,” tuturnya.
Margin laba yang dapat diambil dari bisnis ini sekitar 50%-75%. Akan tetapi, menurutnya, potensinya bisa mencapai 200% jika pelaku usaha tidak menyewa tempat penjualan.
Saat ini Yusi memasarkan produknya lewat sistem kerja sama dengan beberapa pelaku usaha.
Sepatu buatannya dapat ditemukan di tujuh outlet, antara lain Batik Keris di Menteng Jakarta, Batik Keris di Puri Indah Mal, Sogo Kota Kasablanka, Pasaraya Blok M serta gedung Smesco, Jakarta.
Selain Yusi, pemain lain yang meramaikan bisnis produksi sepatu adalah Parayu Indonesia. Tomi Razali, Co-Founder Parayu Indonesia, menceritakan saat ini penjualan sepatunya sudah mencapai 400 pasang sebulan.
Harga yang dipatok untuk tiap produk bervariasi dengan range mulai dari Rp200.000 - Rp350.000 per pasang. Kendati masih terbilang baru, usaha yang berjalan dua tahun ini sudah mendapat tempat di hati konsumennya.
“Ini karena kami mencoba menonjolkan keunikan dari segi bahan baku dan juga desain modelnya. Kami berkomitmen sekali untuk selalu refresh model sekali dalam tiga bulan,” tuturnya.
1. Padukan Tren dan Segmen Pasar
Bisnis Sepatu: Inovatif di Tengah Persaingan Ketat Contoh kreasi sepatu Parayu Indonesia yang menggunakan aplikasi bahan kain tradisional (Foto: Parayu Indonesia)
Seperti halnya bisnis lain, dalam bisnis sepatu juga ada masa naik turun. Namun hal tersebut bisa diatasi dengan mengandalkan kreatifitas.
Dari pengalaman Yusi maupun Tomi kunci untuk bisa masuk dan bersaing dalam bisnis pembuatan sepatu, salah satunya, inovasi.
Menurut Yusi, modal bukanlah faktor yang utama yang perlu dipikirkan jika ingin memasuki bidang usaha ini.
Bisnis ini bisa digeluti tanpa mengeluarkan modal yang terlalu besar. Dia sendiri mengaku hanya bermodalkan beberapa ratus ribu rupiah yang digunakan untuk membeli selembar kulit domba untuk dijadikan dua pasang sepatu.
Untuk membuat sepatu dia mencari perajin yang mau meladeni sistem maklun di daerah Solo, Jawa Tengah.
Hasil penjualan dua pasang produk pertama itu dia putar menjadi modal kembali untuk membeli bahan baku. Usahanya terus membesar hingga sekarang mampu memiliki workshop dengan sekitar 15 perajin.
“Ada tiga hal yang harus dimiliki jika ingin terjn dalam usaha ini. Pertama siapkan mental termasuk bagaimana jika bisnis gagal. Kemudian cari usaha yang sesuai passion. Terakhir harus jeli melihat tren yang disesuaikan dengan segmen pasar. Jadilah creator bukan follower,” tuturnya.
Kreatifitas dan ide adalah modal terbesar yang dimiliki Yusi dalam bisnis tersebut.
Dia mencari pasar dari kalangan menengah. Menurutnya segmen ini yang paling cocok untuk sepatu handmade. Biaya produksi dan upah tidak akan sulit tertutupi jika dia membidik segmen bawah.
Untuk memenuhi ekspektasi pasar yang dia bidik, dia mencoba memberikan sepatu yang unik yang sesuai karakter konsumennya.
Misalnya, dari segi bahan, dia memadukan berbagai jenis bahan baku seperti kanvas, kulit, batik, bahan lainnya. Modelnya pun dibuat beragam mulai dari flat shoes, highheel, angkle boot, long boot.
Dia juga membuat sepatu dengan warna-warna yang berani. Selain itu Yusi yang memang doyan menggambar sering bereksperimen untuk membuat desain sepatu.
Dia pernah membuat sepatu dengan model kuda, bentuk barong, sepatu dengan lukisan wayang, hingga sepatu dengan lukisan srikandi.
Desain khusus tersebut memang sering kali bukan untuk dijual umum tetapi dibuat terbatas untuk keperluan pameran seperti di Indonesia Fashion Week, Inacraft atau Hongkong Fashion Week.
Namun strateginya itu terbilang jitu. Dengan keunikannya dia kerap menggondol penghargaan, sering diliput media sehingga otomatis meningkatkan brand awareness.
Kondisi yang sama juga dilakoni Parayu Indonesia. Menurut Tomi bisnis sejak awal Parayu memang diproyeksikan untuk segmen pasar menengah atas atau kalangan wanita sosialita dengan range usia 18-38 tahun.
Parayu pun dihadirkan dalam beragam bentuk sepatu seperti flat shoes, sneakers serta highheel yang memang banyak digemari target pasarnya.
Ke depan, pihaknya juga akan mengeluarkan desain dalam bentuk boot serta wedges.
“Akan tetapi yang membuat kami berbeda lebih pada segi bahan baku. Kami menggunakan banyak kain tradisional Indonesia seperti Batik dari berbagai daerah di Jawa, songket dari Sumatera serta kain tenun terutama dari Sumatera dan Kalimantan,” jelasnya.
Pemanfaatan kain-kain tradisional itu sekaligus menjadi bagian dari inspirasi pendirian Parayu Indonesia.
Menurut Tomi, ide awal para pendiri bisnis tersebut memang untuk lebih memasyarakatkan kain tradisisional Indonesia yang kaya akan nilai historis.
Sayangnya, saat ini banyak konsumen yang tidak terlalu sadar makna atau latar belakang di balik kekayaan kain tradisonal.
Seperti arti katanya yang berarti perempuan dalam bahasa Sunda, Parayu Indonesia, diharapkan dapat menjadi pusat perhatian konsumen sepatu.
“Selama ini kami sudah bisa masuk ke segmen pasar Indonesia, maka ke depan kami akan membidik ekspor dan terus mengeluarkan model baru agar bisa diterima pasar internasional,” tutur Tomi.
Untuk memenuhi target pasar baru tersebut, Parayu mengubah sistem produksinya. Mulai minggu depan mereka akan meninggalkan sistem maklun dan mulai membangun workshop sendiri agar produksi bisa lebih lancar.
Perubahan sistem produksi tersebut juga untuk mengejar target produksi menjadi 1.200 pasang sebulan.
2. Andalkan Pemasaran Online dan Pameran
Bisnis Sepatu: Inovatif di Tengah Persaingan Ketat Salah satu sepatu U/See Shoes yang diikutkan dalam kompetisi desain internasional (Foto: U/See Shoes)
Bagi pelaku usaha sepatu yang mengusung merek sendiri tentu akan lebih sulit untuk memasarkan produk head to head dengan ratusan merek lain yang dibuat secara massal dan menguasari ritel modern.
Pemasaran yang dinilai paling tepat untuk produk sepatu adalah lewat online. Parayu sendiri sejak awal fokus di pemasaran online lewat media sosial Facebook, Instagram serta situs website www.parayuindonesia.com.
Saat ini kanalnya ditambah lagi yakni pemasaran lewat sejumlah e-commerce seperti Blibli.com, Elevania, Lazada dan Mataharimall. Lewat strategi tersebut, Parayu Indonesia yang dimiliki empat orang pendiri itu mampu merambah berbagai daerah di Indonesia.
“Kami juga sudah dikenal oleh konsumen asing yang sering membeli produk kami saat datang ke Indonesia,” tambahnya.
Senada menurut Yusi pemasaran lewat online masih paling unggul. Media sosial sangat ampuh untuk mempromosikan segala usaha. Apalagi saat ini anak muda Indonesia, yang menjadi segmen pasarnya, juga hampir rata-rata gadget mania.
Tetapi di luar itu, perempuan 41 tahun ini juga tetap mengandalkan pameran dan penjualan langsung produk U-See Shoes di outlet-outlet milik mitranya.
“Saat awal berdiri saya memang sering ikut pameran. Akan tetapi saya pilih-pilih pameran yang saya rasa sesuai dengan terget pasar. Sekarang saya hanya ikut dua pameran dalam setahun yakni Inacraft dan Indonesia Fashion Week,” jelasnya.
Editor : Yusuf Waluyo Jati