Dunia Kuliner Sangat Menyenangkan
Article Source: http://www.infonitas.com/profil/dunia-kuliner-sangat-menyenangkan/14305v
Editor : Admin
Reporter : Fitrah Amalia
Syawaldy Moechtar
Infonitas.com/Achmad Rizky Giarwanto
Info Eksekutif - Syawaldy Moechtar punya latar belakang pendidikan di bidang perbankan. Ia pun sempat bekerja di bank selama setahun. Syawaldy merasa passion-nya bukan di dunia perbankan. Baginya, bekerja di belakang meja tak selaras dengan jiwanya. Pada 1997, ia mendapat kesempatan menimba ilmu di dunia food and beverage di Sydney, Australia. Di sana ia belajar dari seorang chef yang concern pada italian foods.
Sekembalinya ke Indonesia, Syawaldy bekerja di Hotel Kempinski Jakarta. Setelah itu ia merantau ke Arab Saudi bekerja di Hotel Le Meridien, AL-Khobar, selama dua tahun. Pulang ke Tanah Air, dia berkarier sebagai chef di Jakarta Convention Center (JCC). Syawaldy juga pernah menjadi private chef untuk Franky Oesman Widjaja. Setelah punya pengalaman kerja di berbagai tempat, ia memutuskan membuka usaha sendiri. Syawaldy memproduksi sekaligus memasarkan piza dan rendang. Kedua jenis makanan produksinya itu ternyata mendapat respon bagus.
Selanjutnya, ia mencoba meracik menu middle east. Masakan timur tengah ini juga ternyata mendapat sambutan positif. Maka pada awal 2015, Syawaldy bersama dua rekannya membuka Restoran Sultan yang menyajikan varian menu khas Timur Tengah. “Titik balik saya memasuki dunia kuliner ketika berangkat ke Australia. Kemudian saat bekerja di Arab Saudi saya mempelajari menu-menu Timur Tengah. Sementara ketika di JCC saya banyak belajar masakan Indonesia. Setelah mendalami dunia kuliner, ternyata menyenangkan,” ungkap Syawaldy.
Bicara soal kegagalan, Syawaldy menghapus kata tersebut dari kamus hidupnya. Walaupun dulu pernah membuka usaha makanan tapi tidak berlanjut hingga sekarang, ia mengaku banyak mendapat pelajaran. “Tiap habis menjalani bisnis, saya merasa ilmu bertambah, sehingga ketika membuka usaha baru jangan sampai kesalahan yang lalu terulang lagi. Uang keluar bukan sebuah kerugian, melainkan uang yang keluar itu sebagai biaya kita belajar,” pungkasnya.
