Anne Sri Arti Menebar Kemakmuran Lewat Makmur Agro Satwa
Article Source: http://swa.co.id/headline/anne-sri-arti-menebar-kemakmuran-lewat-makmur-agro-satwa
by Ria Pratiwi
Kelompok Ternak Makmur Agro Satwa (MAS) menjadi basis Anne Sri Arti menjalankan bisnis pengolahan susunya. Setiap hari, ia mengolah 600 – 700 liter susus segar untuk diolah menjadi susu pasteurisasi, yoghurt, dan stik olahan susu. Lewat kerja sama dengan SD-SD di Sukabumi, Anne lancar memasarkan produk susu olahannya. Para peternak yang tergabung dalam MAS bisa menikmati harga jual susu yang jauh lebih tinggi dibandingkan jika menjual ke tempat lain.
Bagaimana lika-liku Anne mengembangkan bisnis berbasis MAS. Ia mengungkapkannya kepada Ria Efriani Pratiwi, berikut ini:
Bisa diceritakan bagaimana awalnya mendirikan bisnis Makmur Agro Satwa (MAS) ini?
Awalnya saya kerja di Bank Universal di Jakarta. Saya kembali ke Sukabumi disebabkan ketika punya anak, saya berpikir bahwa hidup di Jakarta itu terlalu bising dan repot. Juga karena saya dan suami memang ada pemikiran dan keinginan untuk berwirausaha setelah resign dari kantor masing-masing. Suami saya dulu pernah bekerja di Yamaha Music Indonesia. Setelah kembali ke sini (Sukabumi), saya awalnya tidak langsung ke (bisnis) peternakan, tapi ke yang lain dulu. Tapi karena lingkungan di sini adalah lingkungan peternakan, akhirnya saya punya sapi, walaupun itu diurus orang lain. Jadi saya sudah tahu kemudahan dan kesulitan seorang peternak itu seperti apa. Kita memulai MAS ini pada tahun 2009. Lalu pengolahan susunya menjadi berbagai produk baru di 2010. Dan kita mulai membuat program (untuk masuk ke SD-SD) pada Januari 2011.
Dalam usaha kami memelihara sapi sendiri waktu itu, kok tekor terus, jadi bukannya menghasilkan tapi malah merogoh dari kantong sendiri terus. Jadi, memang kami memulai usaha produk susu ini dengan cukup kesulitan, karena modal awal kami waktu itu hanya Rp1 juta, dan freezer-nya saja saya ambil dari leasing. Saya ambil dua kali dari leasing, dan dua-duanya ditarik kembali karena kami tidak bisa bayar. Karena tidak bisa bayar itulah yang membuat kami berpikir keras, dan akhirnya mendapatkan jawaban bahwa pola pemasaran produk saya (waktu itu) yang salah. Jadi waktu itu dengan modal yang sangat kecil, saya titip jual ke warung dan supermarket, tapi ini tidak menimbulkan uang langsung kan.
Jadi yang pada awalnya barang itu bagus, misalnya kita masukkan per bulan 100 botol yoghurt, dan untuk dapat hasilnya berarti kita harus tunggu satu bulan lagi atau di bulan depannya. Ketika dicek lagi barangnya sebulan kemudian, yang laku paling hanya 50%-60%, dan 40% kembali, dan itu menjadikan barang rusak. Jadi saya harus punya cadangan untuk barang kembali walaupun itu rusak atau BS. Kalau begitu, jadinya saya tidak bisa mengambil susu dengan harga tinggi ke peternak. Sebelum kenaikan harga BBM, saya mengambil susu ke peternak dengan harga Rp4.500 per liter, sedangkan harga di KUD hanya Rp2.800-Rp3.100 per liter. Itu kan sudah ada selisih lebih harga sampai 50%. Kenapa saya bisa ambil dengan harga tinggi, karena saya tidak punya resiko barang rusak atau barang kembali.
Waktu itu bagaimana terpikirkan yang tadinya hanya sebagai peternak sapi perah lalu mengembangkan lagi sebagai pengolah susunya?
Kesulitan yang utama (untuk peternak sapi perah) itu harga susu di tingkat peternak sangat rendah. Kita, sebelum kenaikan harga BBM, diterima susunya oleh penampungan susu hanya Rp 2.800 – 3.100. Jadi, BEP (break event point) untuk hidup si sapi sendiri itu sudah sulit atau tarik-tarikan antara makan sapi dan peternak itu sudah repot banget. Jadi melihat kondisi seperti itu, juga tingkat pendidikan anak-anak para peternak yang masih di bawah, bukannya mereka tidak mau sekolah, tapi lebih karena mereka tidak mampu membayar biaya pendidikan. Jadi, waktu itu rata-rata dari mereka (peternak) hanya bisa menyekolahkan anaknya sampai tingkat SD saja.
Dari situ kami mulai berpikir, bagaimana caranya di samping untuk meningkatkan kondisi peternakan kami sendiri, tapi tetap harus melihat kondisi peternak lain di sekitar, yang mana taraf hidupnya harus meningkat juga. Jadi saya dan suami mencoba membuat usaha pengolahan susu. Jadi yang tadinya susu mentah diterima (pengumpul) hanya dengan harga Rp2800-Rp3100 saja, bisa tidak kalau saya olah, harganya akan semakin tinggi. Tadinya yang saya olah adalah dari sapi saya sendiri, dan itu berasal dari lima liter susu saja. Dari lima liter itu, saya buat menjadi yoghurt, puding, juga saya juga titip jual ke warung-warung.
Berarti pada masa awal pengolahan susu sudah dilakukan pemasaran dengan cara titip jual, tapi tadi kata Anda itu merupakan pola yang salah?
Awal-awal proses titip jual ke warung itu bagus, tapi kan semakin lama animo masyarakat pasti ada bosannya, dan mereka punya banyak sekali pilihan merek susu (yang dijual di warung-warung), maka akhirnya semakin hari penjualan produk kami semakin menurun. Dari sana saya berpikir keras bagaimana caranya agar susu dari para peternak itu bisa kita beli dengan harga yang lebih tinggi dari penampungan susu, tapi bisa dijual tanpa banyak resiko dari barang rusak juga barang kembali.
Akhirnya saya dan suami membuat beberapa program pemasaran (di awal 2011), yakni Gerimis Bagus Mandiri atau Gerakan Minum Susu untuk Anak Usia Sekolah secara Mandiri. Sasaran kita dalam program ini adalah sekolah-sekolah dasar (SD). Hal itu karena para siswa SD lebih mudah diarahkan, dibanding (para siswa) SMP-SMA yang sudah banyak kemauan. Jadi, kita mulai dengan anak-anak SD, dan saya negosiasi dengan sekolah. Kemudian saya juga memberikan pengarahan tentang manfaat minum susu kepada para siswa, kepala sekolah, guru-guru, sampai ke Dewan Kelas atau para orang tua murid.
Dalam kurun waktu sekitar setahun, kami baru mendapatkan 60 SD di daerah Sukabumi. Itu caranya dengan kontrak, artinya sekolah itu dikontrak untuk minum susu seminggu sekali. Harga yang kami tawarkan tidak mahal, yaitu hanya Rp1.000 saja untuk satu batang es yoghurt, dan pembiayaannya bukan dari APBN atau APBD. Jadi, tidak ada bantuan dari mana pun, tapi itu hanya pembelokan dari uang jajan anak sendiri. Dan seiring berjalannya waktu, Alhamdulillah sampai sekarang sudah ada 368 SD, di Sukabumi, Bogor, dan Cimahi. Tapi sementara ini di Cimahi dihentikan dulu, karena memang pasokan kita masih terbatas. Kalau di Bogor, baru 36 SD yang bekerja sama dengan kita. Kita juga ada yang di Cibubur. Di sana dipasarkan untuk tempat rekreasi, yaitu wisata tentang sapi perah. Jadi ketika pengunjung datang, dikasih minum susu gelas, nanti ketika mereka pulang diberikan lagi satu paket olahan susu lainnya, dan semua kita yang buat.
Sebenarnya program Gerimis Bagus Mandiri ini sudah pernah ada tahun 2006. Program itu dari Pemda Sukabumi. Tapi itu hanya berjalan 12 kali atau tiga bulan saja, dan pembiayaannya dari APBD. Kami melihat itu sebagai suatu program yang bagus, namun mungkin caranya kurang tepat, karena kalau hanya berharap biaya dari pemerintah saja, maka di sana akan ada keterbatasan biaya yang pasti terjadi. Belum lagi si anak-anak SD itu tidak terbiasa untuk minum susu. Artinya mereka dikasih susu, ya diminum, tapi kalau tidak dikasih, ya tidak minum. Yang sulit kan memang untuk menimbulkan kebiasaan di anak-anak SD. Nah, kami berusaha untuk membuat kebiasaan di mereka dengan mewajibkan minum susu, jadi lama-lama mereka terbiasa untuk minum susu seminggu sekali.
Anneproduk
Apa memang target utama pemasarannya memang di SD-SD?
Target saya memang SD-SD, tapi utamanya adalah bukan SD yang ada di perkotaan, tapi di pinggiran, yang rata-rata akses masuk ke sana dari jalan raya bisa satu kilometer sendiri, bahkan tidak muat mobil, hanya motor saja, lalu tempatnya ada di tengah sawah. Memang kita sudah bertekad bagaimana caranya susu ini sampai ke anak-anak yang ada di pelosok, bukan di perkotaan, karena logikanya kalau di kota sudah banyak merek dan jenis susu lainnya. Sedangkan di pedesaan itu, bukannya mereka tidak suka susu atau tidak bisa beli susu, tapi karena ketersediaan susu itu sendiri tidak ada di sana. Tapi kalau kita antar ke daerahnya sendiri akan lebih mudah, karena sudah ada di tempat. Harganya juga terjangkau, hanya Rp1.000 maksimal, bahkan yang di pelosok sekali hanya Rp500. Itu harga per batang es yoghurt-nya.
Oh ya, kalau saya masuk ritel-ritel atau grosir, berarti saya tidak punya jaminan pasar yang pasti, karena itu dititip jual, jadi belum tentu habis. Saya lebih mementingkan pasar yang pasti (yaitu pasar sekolah), karena pasar kami yang kami ciptakan pun masih banyak. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau suatu saat sudah membludak, bisa saja saya masuk ke pasar umum.
Untuk penawaran ke SD-SD, apa Anda membuat proposal terlebih dulu atau bagaimana?
Ya, kita memang membuat proposal, dan dulu kita turun sendiri. Mungkin dari sepuluh sekolah yang kita masuki, yang menerima cuma satu, sedangkan yang sembilan lainnya menolak. Jadi harus bolak-balik, karena sulit sekali untuk mengarahkan mereka. Karena ada ketakutan juga di sekolah-sekolah itu yaitu takut mereka disangka ikut jualan. Mereka akan jadi sorotan masyarakat nantinya. Karena ini kan diwajibkan, maka dikira sekolah juga jualan dengan meminta uang lagi dari orang tua.
Satu SD yang di awal setuju bergabung dengan program MAS ini apa alasannya?
Ya, awalnya dia memang diarahkan oleh kita, jadi kita buat semacam penelitian kecil, ternyata sekolah-sekolah yang sudah mengikuti program ini, tingkat kehadiran siswanya lebih banyak atau tinggi. Lalu, anak-anak yang biasanya mengantuk, jadi tidak mengantuk lagi di kelas. Dengan adanya program minum susu ini peningkatan kehadiran dan kecerdasan siswanya sangat jauh dan mereka mengakui itu. Dari situ mulai promosi dari mulut ke mulut yang lebih mudah, akhirnya tanpa harus berteriak-teriak, sekolah-sekolah sudah banyak yang tidak menolak, malah banyak yang menawarkan diri. Dan sekarang kita malah keteteran, karena banyak sekolah yang mau ikut, sedangkan produksi kami belum bisa ditingkatkan. Jadi sekarang program minum susunya masih seminggu sekali saja, walaupun ada sekolah yang meminta seminggu dua kali. Tapi jangankan mereka, sekolah-sekolah yang masuk waiting list saja belum bisa kita layani.
Siapa lagi target pasar MAS, selain SD-SD?
Selain Gerimis Bagus Mandiri, kita juga punya program Gerimis Peri yaitu Gerakan Minum Susu di Lingkungan Pegawai Negeri, biasanya dilakukan setelah waktu senam mereka yang seminggu sekali itu. Yang paling rutin (meminum produk kita) adalah Samsat Sukabumi. Lalu ada Gerimis Pesta, yaitu Gerakan Minum Susu bagi Pegawai Swasta, di sini sasaran kita ke bengkel-bengkel, yang mana pekerjaan mereka rawan polutan, jadi minum susu atau yoghurt bisa jadi antioksidan; sehingga menjelaskan dan mengarahkan mereka mudah, karena mereka yang paling banyak menghirup polutan itu. Selain bengkel, kita sudah masuk ke perbankan dan percetakan juga.
Kemudian, Gerimis Kawin adalah Gerakan Minum Susu bagi Karyawan Industri; untuk ini dalam daftar tunggu kita sudah ada beberapa pabrik, mudah-mudahan sih mulai bulan depan sudah mulai. Program “kawin” ini harusnya sudah jalan dari beberapa waktu lalu, tapi karena alat kita terbatas, maka kita tunda dulu sampai setelah Lebaran ini. Selain ini, kita juga buat program untuk Hari Raya (Idul Fitri) nanti yang namanya Parsel Sehat, di mana parsel itu isinya produk-produk olahan susu dari kami, dan ini sudah kami launching. Sasaran untuk parsel ini lebih ke pegawai negeri (Pemda).
Juga, sangat mungkin bagi kita untuk meluaskan pemasaran ke SMP, SMA, dan universitas. Lalu PAUD dan TK juga ada. Mungkin saya akan habiskan SD dulu, karena ini juga masih luar biasa banyak. Di Sukabumi saja kalau mau tergarap semua, kita harus siapkan sekitar 25 kiloliter susu per hari.
Berapa dana yang digelontorkan untuk program di SD-SD itu, karena tadi Anda bilang masih swadaya semuanya?
Karena sistem kita itu pembayarannya langsung ya. Jadi begitu kita masukkan, sistem pembayarannya pun langsung. Hari ini dikirim, besok pagi sudah jadi uang. Tidak seperti di warung yang mesti ada berhutang dulu, dia seminggu baru diambil. Apalagi supermarket yang sebulan baru bisa diambil. Soal ini sudah dicantumkan di kontrak, dan kerangka pembagiannya juga sudah jelas. Sekolah dan koordinatornya juga harus mendapatkan bagian. Menurut kami, pekerjaan ini memang harus dimulai dengan sistem. Kalau semua sistem sudah jadi dan jalan, maka saya tidak perlu untuk mengawasi masing-masing lagi.
Bisa dijelaskan lebih detail lagi cara Anda memasarkan produk-produk olahan susu ini?
Untuk memasarkan, saya tidak menggunakan jasa perorangan, tapi menggunakan kelompok-kelompok lagi di bawahnya. Dari kelompok pemasar tersebut disebarkan lagi dengan dipilih koordinator wilayah yang ada di setiap kecamatan yang jadi tempat sasaran kami. Koordinator wilayah itu kita didik dari karang taruna, ibu-ibu Dharma Wanita, PKK, atau pengajian, dan ada juga kelompok-kelompok usaha kecil. Jadi mereka harus mengetahui bagaimana proses pengolahan itu, lalu bagaimana menghadapi kepala sekolah, bernegosiasi dengan mereka, dan itu saya turun ke lapangan sendiri. Jadi yang saya lakukan 20% teori dan 80% praktik. Koordinator wilayah di Bogor baru punya satu, di Jakarta baru punya dua. Di Jakarta (Kebon Jeruk) itu khusus tim pameran kita. Kita sering ikut pameran, termasuk yang dari Kementerian-Kementerian, seperti misalnya yang di JCC itu kita ikut hampir setiap tahun.
Kita ingin bersinergi dalam memasarkan susu lewat sekolah. Jadi saya masuk ke sekolah itu bukan berarti saya titip jual di warung (kantin). Karena kalau dititip di kantin, anak-anak itu kalau mau ya dia beli, kalau tidak mau ya tidak beli kan. Jadi ini harus diwajibkan, misal sekolah A itu harus setiap Selasa, sekolah B hari Senin, jadi ini ada kepastian kapan mereka minum (produk saya). Juga kita mau masuk ke kalangan pegawai negeri itu menggunakan ibu-ibu Dharma Wanita, karena mereka kan lebih mudah “menyentil” bapak-bapaknya.. Hehehe.. Termasuk Gerimis Pesta yang kita didik adalah ibu-ibu PKK.
Kalau produk olahan susu yang bentuknya kering, seperti milk stick, memang lebih banyak ibu-ibu PKK yang jual, dan sasarannya ke pegawai-pegawai negeri, dan ini untuk oleh-oleh biasanya. Kita sih juga dalam rangka merancang tempat oleh-oleh pusat olahan susu. Terutama jika ada tamu-tamu di instansi pemerintah Sukabumi, ketika pulang lagi itu akan membawa oleh-oleh serba susu. Caranya adalah kami bekerja sama dengan Dharma Wanita yang ada di tempat-tempat tersebut. Kalau sekarang pemesanan untuk oleh-oleh by phone saja. Itu tidak harus pesan beberapa hari sebelumnya karena produk kita ready stock.
Jadi sebenarnya peternak itu tidak perlu teriak-teriak jika bisa memasarkan seperti itu. Itu kan tidak berbenturan dengan industri. Lain lagi ceritanya jika kita sekarang masuk ke pasar umum, kita akan bersaing dengan industri, harus gesek sana-sini, sedangkan mereka pasti punya kemasan yang lebih cantik.
Apa pemasaran ini sudah sampai ke luar negeri juga?
Pemasaran untuk di dalam negeri saja, kita sudah keteteran. Sebenarnya permintaan untuk dikirim ke Padang dan Batam juga banyak. Tapi pasar kita sendiri untuk Sukabumi sendiri masih sangat banyak. Tapi juga tidak menutup kemungkinan untuk ekspor ke luar negeri. Kita tidak menutup diri seandainya suatu saat masuk investor, termasuk dari asing, yang menawarkan joint venture misalnya. Saya lebih suka yang pasti-pasti saja deh. Karena untuk saat ini, saya rasa belum saatnya kalau harus meminjam ke bank. Karena kalau meminjam ke perbankan, setiap hari kita dikejar bunga.
Anne
Bagaimana cara Anda memenuhi kebutuhan pasokan susu mentah untuk diolah menjadi produk-produk itu? Apakah dari sapi milik Anda sendiri?
Saya masih punya sapi sendiri sekarang, tapi saya ambil susunya kebanyakan dari peternak lain. Kita mengambil susu ke mereka dua kali sehari, pagi dan sore, sudah ada jam-jamnya. Dari sapi saya paling hanya beberapa puluh liter susu saja. Kebutuhan kita sekarang untuk produksi yaitu 600-700 liter per hari. Pemenuhan untuk produksi itu ya berasal dari gabungan kelompok ternak MAS ini.
Dari satu peternak, berapa liter yang kita dapat itu tergantung masing-masing peternaknya ya. Rata-rata satu ekor sapi itu menghasilkan 12-15 liter sehari. Dari kelompok kita sendiri ada sekitar 300 liter per hari. Jadi, di luar kelompok ada 400 liter per hari. Walaupun kebanyakan kita ambil susu dari peternak, memang karena tim kesehatannya dari kita sendiri, jadi lebih terkontrol. Misalnya kita bisa mengecek mana sapi-sapi yang mengandung antibiotik, mana yang tidak. Masuk ke sini juga kita tes lagi.
Sampai detik ini sih (pasokan susu) luar biasa banyak ya, jadi kita belum pernah kekurangan pasokan. Di Sukabumi ini bisa menghasilkan susu sampai 22 ribu ton susu per hari. Bahan baku masih melimpah, pasar pun luas, dan keterbatasan kita pada alat produksinya saja yang masih bertahap.
Kalau permintaan dari SD-SD itu sendiri sih, karena masing-masing sekolah jumlah muridnya berbeda, misalnya rata-rata terendah itu, kita ambil 300 orang saja deh, lalu dikali 100 mililiter, jadi sekitar 30 liter setiap sekolah. Ini karena setiap anak biasanya memang dikasih yang ukuran 100 mililiter.
Bisa dijelaskan apa maksudnya dengan gabungan kelompok ternak itu?
Kami kelompok biasa tadinya, tapi di sekitar kami banyak juga kelompok lain, akhirnya mereka bergabung ke kami. “Bu, ikut dong, kami juga ingin memasarkan susu di sana, dan mendapatkan pembinaan,” Jadi kita gabung saja, namun wadahnya memang harus besar kan. Kalau kelompok itu tidak mungkin, karena maksimal hanya 20 orang, jadi kita gabungan kelompok. Itu anggotanya enam kelompok budidaya, satu kelompok pengolah, dan satu kelompok pemasar yang mempunyai 17 kelompok lagi di bawahnya. Kita beri nama gabungan kelompok ternak ini dengan Makmur Agro Satwa (MAS) alasannya adalah supaya dari agro ini, khususnya peternakan, diharapkan akan meningkatkan kemakmuran atau taraf hidup dari para anggotanya.
Sebetulnya kita tidak ada target berapa kali pertemuan dalam gabungan kelompok itu, tapi memang ada satu kali pertemuan wajib dalam sebulan. Tapi kapan pun mereka memerlukan, kadang mereka ke sini, kadang kita ke kandang-kandang mereka, kita siap saja untuk memberikan pendidikan atau informasi.
Kenapa saya buat kelompok itu terpisah, itu supaya manajemen setiap kelompok itu sendiri-sendiri. Karena kalau kita punya mobil, setir, dan spion, kalau setir ingin jadi spion, dan spion ingin jadi setir kan kacau. Jadi mereka memang harus bertanggung jawab di bidangnya masing-masing. Jadi penanggung jawab di bidang budidaya adalah ketua-ketua kelompoknya masing-masing, juga sama yang terjadi di bidang pengolahan dan pemasaran.
Kalau soal kelompok budidaya sapi perah yang di bawah MAS juga itu bagaimana?
Posisi suami saya adalah sebagai Ketua Gabungan Kelompok Ternak MAS. Sementara saya hanya fokus di pengolahan dan pemasaran. Selain MAS ini, juga ada beberapa kelompok ternak yang lain, tapi semua dalam komando MAS ini. Enam kelompok budidaya ini semuanya membudidayakan sapi perah, dan semua setor ke sini. Jadi kita ini belum CV atau PT, karena masih gabungan kelompok saja.
Lalu, karena di sini lingkungannya peternak sapi perah, maka kita tergerak untuk meningkatkan taraf hidup mereka, daripada hanya “teriak-teriak” (kepada pemerintah soal kesejahteraan peternak). Karena awalnya saya pernah bergabung juga di satu koperasi besar, walaupun di sana hanya pasif, dan di sana saya melihat semuanya hanya “teriak-teriak” saja, “Tingkatkan dong harga susu!!” Jadi kenapa bukannya malah dibuat gerakan-gerakan kecil saja di seluruh Indonesia, dengan begitu maka kita tidak akan tergantung kepada industri-industri pengolahan susu (yang besar) di Indonesia. Jadi kita (peternak sapi perah) memiliki nilai tawar lebih.
Di Sukabumi sendiri, ada juga kelompok-kelompok ternak di daerah lain, seperti di Salabintana, tapi biasanya mereka sudah bergabung dengan koperasi. Tapi susu dari mereka biasanya hanya ditampung oleh koperasi tersebut, dan tidak diolah, maka tidak memberikan nilai lebih. Di samping hasil susu mereka kita terima dengan harga tinggi, sangat jauh dari yang ditawarkan tempat penampungan lain, para istri peternak juga dilibatkan dalam proses pengolahan, jadi mereka juga mendapatkan hasil dari situ. Lalu pembinaan kita ke mereka memang dengan cara kekeluargaan sehingga bisa menyentuh hatinya.
Berapa target MAS di tahun ini dalam hal pembudidayaan sapi perah?
Target dari pembudidayaan sapi itu sebetulnya kita ingin sebanyak-banyaknya, karena kebutuhan susu kita juga tinggi. Memang di Sukabumi ada 22 ribu ton susu per hari, tetapi kualitasnya tidak bisa dikontrol, kecuali yang ada dalam gabungan kelompok kita, dari hulu ke hilirnya kita tahu. Misal kita ambil dari penampungan lain juga tidak tahu kualitasnya seperti apa, walaupun mereka masuk ke sini juga melalui tes. Jadi kita berpikir harus di kelompok kita sendiri yang lebih besar. Walaupun target kita sebanyak-banyaknya, tapi kita tidak ngoyo. Yang penting, mereka (peternak) bisa jadi lebih sejahtera saja daripada sekarang.
Dulu waktu awal kelompok ini bergabung masih baru puluhan liter susu yang dihasilkan. Kalau jumlah sapi perahnya, dulu kita hanya punya 12 ekor. Waktu bergabung 20 orang, masing-masing kan kepemilikannya berbeda, ada yang satu ekor, dua ekor, ada juga yang baru punya pedet yang belum menghasilkan susu. Awalnya kita menggabungkan mereka, hasilnya masih sangat minim. Jadi yang kita gabungkan adalah bukan anggota yang sudah punya sapi banyak, tapi mereka yang sangat kecil. Kalau sapi saya sendiri hanya 24 ekor. Saya lebih suka menambah sapi untuk disebarkan ke masyarakat, bukan untuk diri saya sendiri, karena yang saya butuhkan adalah susunya, bukan sapinya.
Dengan berbentuk gabungan kelompok ternak seperti itu, lalu bagaimana cara MAS membagi hasil keuntungannya?
Kita tidak ada sistem gaji, tapi sistem bagi hasil semua. Jadi artinya saya tidak mau direpotkan bagaimana harus menggaji orang. Karena kita sistemnya kelompok, jadi tidak seperti pegawai swasta yang gajinya bisa dibulankan, kelompok seperti ini kebutuhannya sangat tinggi, artinya mereka ingin mendapatkan hasil detik ini juga. Karena wawasan mereka (peternak) itu terbatas kan. Mereka ingin harga susunya langsung tinggi, tidak mau dibayar seperti di penampungan susu yang akan dibayar sisanya belakangan dalam bentuk SHU (sisa hasil usaha). Bahasa mereka adalah “Saya lapar hari ini jadi tidak bisa dibesokkan”.
Jadi untuk menyentuh mereka, semuanya harus serba langsung. Yang mereka dapat jadinya setimpal, tergantung produktivitas masing-masing. Misalnya yang stick itu dihitung per ikat, jadi kita sistemnya borongan. Jadi kami tidak ada aturan harus masuk jam sekian, keluar jam sekian. Karena peternak punya kesibukan, misalnya istri-istrinya itu selain membantu para suaminya beternak, mereka juga ingin mendapatkan hasil di sela-sela waktunya. Jadi kapan pun mereka ingin masuk ke tempat ini, kapan pun mereka mau mengerjakan, berapa pun yang mereka hasilkan, akan mendapatkan hasil sesuai dengan yang mereka kerjakan.
Kan tadi Anda bilang kalau harga susu mentah para peternak yang diterima murah, tapi setahu saya, susu yang sudah diolah menjadi susu bubuk untuk anak-anak, remaja, atau pun orang dewasa itu harganya mahal. Jadi kenapa ada ketimpangan seperti itu?
Ketimpangan itu terjadi karena susu-susu yang diminum di kita itu kebanyakan susu bubuk ya, dan itu kebanyakan impor dari luar atau merek asing. Sebenarnya kalau susu bubuk itu nutrisinya sudah habis, karena dia sudah dipanaskan dengan suhu tinggi, disemprotkan jadi butiran-butiran, dan vitamin-vitamin di dalamnya itu menggunakan vitamin sintetis kan. Kalau kami masih murni vitaminnya. Jadi ini masih perlu kerja keras kita bagaimana caranya mensosialisasikan hal ini ke masyarakat.
Berarti dengan masih murninya susu mentah yang Anda olah tersebut, apakah itu menjadi kelebihan produk Anda dibandingkan produk lain sejenis?
Ya, memang kelebihan produk olahan susu kita itu yakni karena kita (memakai) 100% susu murni, tidak membubuhkan zat apapun di dalamnya. Waktu kita kan sangat pendek, artinya memproduksi hari ini sesuai kontrak, besok pagi telah selesai, dan habis di hari yang sama juga. Kami tidak perlu menyimpan lama, jadi produk yang kami buat pasti fresh terus. Juga untuk standar kualitas susu, kita punya tim kesehatan sendiri. Tim kesehatan kami itu anggotanya para peternak juga, tapi mereka merangkap sebagai mantri-mantri sapi. Kita punya tiga mantri sapi.
Ada metode atau teknik tertentu tidak supaya produknya selalu berkualitas bagus?
Kenapa susu itu bisa bagus, karena sapinya diberi pakan yang baik. Pakan itu bisa baik, kalau harga susu juga bisa tinggi. Peternak itu bukannya tidak tahu bahwa harus memberi sapinya pakan yang baik, tapi harga pakan baik itu mahal. Kalau harga susunya rendah, bagaimana dia bisa memberi pakan yang baik, jadi mereka membeli yang sekadarnya saja. Tapi dengan harga yang kita kasih, peternak bisa beli pakan dengan harga yang bagus.
Produk-produk yang dibuat MAS itu apa saja?
Banyak ya, kalau untuk produk cairnya kita membuat susu pasteurisasi, yoghurt (yang ada dalam berbagai ukuran, yaitu eceran Rp500, Rp1.000, atau per paket seharga Rp5.000 atau Rp20.000), dan susu murni. Kita juga membuat snack-snack dari susu, ada milk stick, samosa, dodol susu, bagelen, dan lain-lain. Yang memproduksi itu juga adalah si peternak atau istrinya, jadi mereka kita didik di sini. Tapi karena keterbatasan tempat, maka bahan baku kita kasih dari sini, ukuran-ukurannya juga sudah kita tetapkan, jadi mereka tinggal membuat saja di rumahnya masing-masing. Untuk pengepakan ada di (pusat) sini semua alat-alatnya. Kalau yang cair itu tidak boleh diproduksi di luar ruangan karena rawan terkontaminasi. Jadi, yang kita kasih ke mereka hanya produk kering.
Dulu itu bagaimana cara belajarnya sampai akhirnya mengetahui bahwa susu itu bisa dijadikan berbagai macam produk seperti itu?
Awalnya iseng-iseng, kadang browsing juga. Tapi produk yang dilihat ketika browsing masih sulit tercapai waktu itu, karena pengetahuan dan peralatan saya belum sampai ke sana. Saya sebenarnya mengajar pembuatan produk olahan susu ini malah dalam jenis es krim, tapi sekarang masih belum bisa diwujudkan ke dalam produk kami, karena alatnya belum ada. Selain itu, kita juga sudah bisa bikin keju. Kebetulan tiga bulan kemarin, suami saya dikirim ke Selandia Baru dari Kementerian Pertanian untuk belajar mengenai peternakan, sampai ke pembuatan keju dan mentega.
Apa target dan rencana MAS ke depannya? Apakah akan membudidayakan kambing juga?
Kalau kambing, mungkin bisa saja ke depannya. Tapi saat ini memang target kami untuk tahun depan harus mampu menyerap 2.000-3.000 liter susu per hari. Karena pasar kita kan pasar tumbuh, jadi kami justru kelebihan pasar. Sedangkan kalau orang lain mungkin akan sulit untuk mencari pasar, tapi pasar sekolah-sekolah itu (yang kami sasar) terus tumbuh. Namun karena peralatan kami terbatas, maka sekarang baru hanya bisa menyerap dan mengolah 600-700 liter susu saja per hari. Sementara SD di Sukabumi saja sekarang berjumlah sekitar 1.600-an. Sekarang kalau dibagi enam hari, ada sekitar 267 SD, atau misalnya dibulatkan 250 SD saja dikalikan 100 liter, berarti 25 kiloliter susu terserap setiap harinya.
Mulai bulan depan, kita sudah akan membangun pabrik pengolahan susu yang lebih besar lagi. Itu akan mempunyai alat-alat yang lebih banyak dan canggih lagi, serta bangunan yang khusus. Kalau sekarang masih bersatu dengan rumah kami, walau ruangannya berbeda. Dengan begitu, kami akan mampu mengolah mungkin sampai 1.000 liter per hari. Kalau setahun berarti 1000 x 365 hari karena sapi tidak ada liburnya, hehe..
Juga Insya Allah, kita ingin meluaskan pasar ke luar Sukabumi, tapi ini masih melihat perkembangan alatnya saja. Kita memang belum berani meminjam ke mana pun, jadi ini masih murni swadaya. Dari kami ada, dari gabungan kelompok juga ada.
Kemudian, kita juga selalu diversifikasi produk ya. Ini untuk menghindari kebosanan, dan kita juga ingin jenis-jenis (produk) kita juga beragam. Tujuan kita ke depan kan ingin punya satu tempat oleh-oleh olahan susu yang cukup banyak. Mulai dari sekarang, setiap ada waktu, ide, dan kesempatan, kami akan selalu berusaha membuat inovasi itu.
Bagaimana cara Anda meningkatkan volume bisnis MAS ini?
Kenaikan volume susu kita setiap tahun besar sekali ya, jadi awal tahun kita berdiri hanya bisa mengolah lima liter, naik ke 10 liter, tahun kemarin saja baru sekitar 300 liter, sekarang sudah 700 liter dalam sehari, jadi kenaikannya sudah dua kali lipat lebih. Volume produksi susu bertambah karena pasar sudah ada, peternak yang bergabung juga semakin banyak. Karena pasar kami pasar tumbuh, jadi kami tidak usah repot mencari pasar. Yang dibutuhkan sebetulnya hanya alat-alat pendukung saja.
Jadi, sebenarnya buat kita meningkatkan volume bisnis tidak terlalu sulit ya. Artinya saya dikasih fasilitas pengolahan yang lebih saja, pasti langsung “lari” lagi. Karena memang pasar saya sudah pasti, dan mereka sudah menunggu. Saya optimis bahwa pasar itu akan tetap ada, dan untuk menghindari kebosanan itu, apa yang saya berikan dalam program di sekolah itu tidak harus berbentuk susu. Saya polanya itu, misal minggu pertama di sekolah A, dia minumnya susu yang pasteurisasi, minggu kedua yaitu yoghurt, minggu ketiga pakai puding, dan minggu keempat lainnya lagi. Sampai saat ini tidak ada kebosanan, karena berubah terus produknya. Anak-anak suka, harganya juga terjangkau. Rasanya bervariasi juga, karena setiap sekolah juga berbeda.
Jadi, sebenarnya masih ada kendala tidak dalam bisnis ini?
Kendala kami sebenarnya masih di alat dan transportasi saja ya. Kalau kita punya fasilitas kendaraan sendiri tentu akan lebih cepat. Tapi itu satu pilihan, apakah saya harus mementingkan membuat jaringan tambahan atau membeli mobil. Kalau saya membeli mobil, hanya satu mobil itu saja, tapi pasar saya masih tetap itu. Tapi kalau saya membeli alat, berarti pasar saya juga akan bertambah, karena produksi saya bertambah. Jadi saya sekarang lebih banyak membelanjakan (hasil lebih keuntungan) ke peralatan. Ini selama pengiriman bisa disiasati dengan kendaraan umum, buat saya tidak masalah. Jadi saya untuk mengirim ke Bogor dan Jakarta itu menggunakan bis. Kita bekerja sama dengan beberapa PO bis untuk menyewa bagasi-bagasinya. Itu kenapa saya bekukan dan dikirim dengan kardus sterofoam, karena jadi dikirim selama 24 jam dalam bis pun tidak akan jadi masalah.
Penyewaan bagasi bus itu sistemnya per boks. Dulu sebelum kenaikan BBM, itu satu boks isi 50 liter hanya Rp10 ribu, sekarang Rp20 ribu. Biasanya kita mengirim banyak sekali dengan bus, biasanya dari sini kita naikkan angkot dulu, kalau subuh berangkat bisa dua sampai tiga angkot. Kadang ada yang dikirim lebih banyak di daerah sini, atau bisa juga ke daerah lain. Dari angkot itu akan dibawa ke terminal, nanti di sana sudah ada nama-namanya, tinggal masuk-masukkan saja, karena kita sudah terbiasa bekerja sama. Ada yang masuk ke Langgeng Jaya, Restu, dan lain-lain, tergantung masing-masing tujuannya. Kita kirim itu ke koordinator wilayahnya, nanti dia yang akan jemput ke terminal terdekat. Kalau di Cibubur itu di Kampung Rambutan, lalu kita juga punya di Kebon Jeruk, itu ambilnya di Kalideres.
Kira-kira butuh waktu berapa tahun sampai akhirnya bisa balik modal, dari yang awalnya tadi hanya sebesar Rp1 juta?
Ya, ini cepat banget deh. Hahaha.. Sebelum kita buat program (tahun 2011), kita itu rugi terus menerus, tapi setelah masuk ke program, dengan hanya beberapa bulan saja, maka sudah kembali semua (modal di awal). Bahkan semua kerugian kemarin sudah tertutupi. Untuk saat ini, modal per hari yang kami gunakan sangat besar. Sudah sangat jauh sekali dari modal awal kita.
Kalau omzet per bulan dan per tahunnya kira-kira berapa?
Hitungnya rata-ratanya begini saja deh, per liter susunya saya jual harga terendah Rp8 ribu. Rp 8 ribu x 700 liter per hari saja, sudah berapa itu?
Bagaimana jika ada konsumen yang mau beli di luar dari sekolah atau Pemda, apakah akan membuka kedai jual susu sendiri ?
Ya, kita sudah banyak kedai seperti itu. Seperti misalnya di Bogor, kita ada koordinator yang memasarkan di sana, dan mereka memakai nama mereka sendiri. Mereka itu tadinya adalah anak-anak IPB jurusan Agribisnis, yang dulu pernah magang di sini. Mereka kita didik bagaimana cara pemasaran, dan sebagainya. Setelah mereka selesai magang, dan kembali ke Bogor lagi, sekarang mereka memegang program (Gerimis Bagus Mandiri) ini untuk dipasarkan mereka sendiri dengan merek Vee. Ada juga yang punya merek Sadulur, itu Koperasi Sadulur untuk Jawa Barat. Ada juga yang merek kita sendiri, yaitu MAS. Kita juga ada Cibugari, yang dipasarkan di Pondok Rangon, Cibubur. Ini untuk paket-paket wisata edukasi.
Apakah MAS juga membuka sistem waralaba (franchise)?
Kami tidak pernah pakai franchise sebenarnya, tapi kalaupun mau disebut seperti itu, ya prinsip kita franchise syariah kali ya. Kalau franchise asli kan harus menyetorkan sekian persen dulu, tapi di kita tidak. Ini kita tanggung bareng-bareng. Kalau mereka tidak punya sapi, tapi hanya punya kemauan saja, kita menyediakan. Yang penting bagian dan setoran mereka (kepada kita) jelas, jadi kita tidak pernah saklek dalam segala hal.
Apakah MAS juga bekerja sama dengan koperasi?
Kami tidak bekerja sama dengan koperasi, karena jika bekerja sama dengan mereka, maka kami harus menyetorkan susunya ke koperasi kan. Jadi sampai saat ini kami belum berpikir untuk bekerja sama. Lalu, untuk kita menjadi bentuk koperasi sendiri, itu masih belum ada rencana ke sana. Tapi kita ada kerja sama dengan satu koperasi, tapi itu pun bentuknya koperasi pemasaran.
Bagaimana cara MAS mengatasi persaingan dengan produk-produk lain sejenis, baik merek asing maupun produksi lokal Indonesia sendiri yang sekarang sudah sangat banyak?
Ya, memang sangat banyak. Di Sukabumi saja, untuk produk yoghurt saja, sudah ada 10 pengolah, tapi kebanyakan dari mereka kan tergantung dengan pasar umum, karena dipasarkan di ritel itu. Dari yang kami pelajari, yang masuk ke pasar umum itu biasanya tidak bertahan lama, karena uangnya “mati” lama di warung-warung atau supermarket kan, banyak BS. Jadinya, sudah frustasi duluan dan tidak diteruskan. Kami buat pasar kami ini semuanya dengan MoU, jadi pasar kami selalu pasti. Jadi apapun produk yang mau masuk ke sekolah tersebut, tidak bisa masuk, selama MoU tersebut masih berjalan. Kontrak yang ada sekarang malah kontrak “abadi”, jadi tidak ada jangka waktunya, haha.. Memang kami mengusahakan berbagai program agar semua produk yang kita hasilkan bisa ada MoU-nya.
Alhamdulillah sampai detik ini belum ada sekolah yang mundur dari kontrak. Kita juga sudah ada rekomendasi untuk kerjasama dengan Dinas Pendidikan itu, di Sukabumi, Bogor, dan Cimahi; jadi MoU-nya bukan hanya ke sekolah. Untuk dapat MoU dengan Dinas Pendidikan itu tidak mudah, saya harus membuktikan diri selama 1,5 tahun dulu kalau saya bisa melakukan MoU dengan sekolah-sekolah dan di sana tidak terjadi masalah. Karena kan zaman dulu, dalam program sejenis yang dibiayai pemerintah, pernah ada keracunan. Saya memulai program ini malah di SD yang dulu terjadi masalah (keracunan) itu. Jadi saya pikir, saya mending masuk ke yang sulit dulu, baru ke yang mudah akan mengikuti saja.
Sebenarnya apa yang harapan Anda pribadi terhadap bisnis ini ke depannya?
Idealnya saya ingin menginvestasikan kecerdasan anak-anak lewat minum susu ini. Karena dengan yang saya lakukan, tingkat kecerdasan mereka lebih meningkat, yang tadinya sering mengantuk jadi tidak lagi, lalu tingkat kehadiran juga semakin tinggi. Ini suatu bukti, walaupun penelitian kita lakukan dengan sangat sederhana, dan (penelitian) ini kita lakukan setiap tahun, di setiap SD yang sudah kerjasama dengan kita.
Penelitian itu dilakukan misalnya pada saat sedang libur sekolah, yang berarti minum susu berhenti dulu yang di sekolah, jadi koordinator wilayah akan mengevaluasi ke setiap sekolah.
Pada masa libur seperti sekarang, untuk tetap bisa menghidupi koordinator wilayah, kami membuat tenda-tenda susu untuk bulan Ramadhan, dan biasanya jumlah pembelinya meningkat di bulan tersebut. Tenda kita ada di beberapa titik dengan nama Serba Susu Murni. Kalau dalam bulan puasa, kalau hari biasa kita menyiapkan 40-80 liter per hari per outlet. Banyak juga yang kita jual keliling ke rumah masing-masing pelanggan, seperti loper koran saja, terutama di hari libur sekolah. Misalnya ada yang minta seliter-dua liter dari satu rumah, nanti bayarnya seminggu sekali.
Sebenarnya banyak orang juga yang minta langganan, dan sebenarnya jurus saya kalau memberi contoh itu lewat anak saya sendiri. Jadi orang kadang berpikir begini, “Ibu itu kampanye susu, tapi apa anaknya juga minum susu? Anaknya pintar atau tidak dengan hasil minum susu murni itu?” Nah, saya buktikan bahwa anak saya yang pertama usia 17 tahun, sekarang kuliah di UGM semester lima jurusan Kedokteran Hewan. Dia juga akselerasi, maka masuk kuliahnya di usia 15 tahun lebih. Sejak SD, dia juga sering memenangkan lomba aritmatika tingkat nasional, juga ikut Olimpiade mata pelajaran tertentu.
Prestasi apa saja yang sudah berhasil diraih bisnis ini?
Di 2012, kita dapat juara 1 Pengolah Susu Tingkat Jawa Barat, kita dapat di Ketahanan Pangan (Citra Produk Berdaya Saing), Pemasaran Terbaik Peternakan, lalu Adikarya Pangan Nusantara, terakhir di Wanita Wirausaha Mandiri Femina, kita dapat dua penghargaan sebagai social dan green enterpreneur. Dan di tahun ini ada dua lomba lagi yang akan kita ikuti.








